Tuesday, March 25, 2025

Sastra Bulan Purnama Edisi ke-162 Meriahkan Ramadan di Museum Sandi Yogyakarta

Jakarta, 20 Maret – Komunitas sastra bulanan “Sastra Bulan Purnama” kembali menggelar edisi ke-162 pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 15.30 WIB, bertempat di Museum Sandi, Jalan Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, dengan menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi, penampilan musik puisi, dan buka puasa bersama.

Penampilan mantan Bupati Bantul Sri Surya Widati dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-162 (foto: Deny Hermawan)

Empat penyair tampil sebagai pembaca puisi utama, yakni Cahnaning Dewajati, dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); Dedet Setiadi, penyair sekaligus pelaku usaha bahan bangunan; Syam Chandra, pengusaha kuliner mie ayam; dan Umi Kulsum, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul. Keempatnya telah lama dikenal aktif menulis puisi dan memiliki sejumlah karya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.

Selain dibacakan langsung oleh para penyairnya, karya-karya mereka juga ditampilkan oleh sejumlah tokoh lintas profesi, antara lain Agus Suprihono (penulis sastra Jawa), Anes Prabu (penyair muda dan aktor teater), Deni Angga, Meuz Prazt (perupa), Nunung Rieta (pemain teater), Ratih Alsaira (perupa), Sri Surya Widati (Bupati Bantul 2010–2015), Tosa Santosa (organizer fashion show), dan Wahjudi Djaya (dosen dan penulis).

Doni Onfire, musisi biola yang dikenal kerap hadir di Sastra Bulan Purnama, turut memeriahkan panggung dengan menggubah puisi karya Dedet Setiadi dan Umi Kulsum menjadi lagu. “Penampilan kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjadi momen silaturahmi dengan teman-teman lama,” ujar Doni.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan bahwa keempat penyair tetap konsisten menulis meskipun sebagian telah memasuki usia 50 hingga 60 tahun. “Menulis puisi bukan untuk mencari uang. Kalau sesekali dapat honor, itu hanya bonus. Yang utama, menulis puisi adalah cara mereka membahagiakan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Dedet Setiadi, salah satu penyair yang tampil, mengaku meski secara administratif tinggal di Ngluwar, Magelang, ia lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta. “Saya lebih banyak berinteraksi di Yogya. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas sastra di sini,” ucapnya.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa sastra tetap hidup dan menjadi ruang ekspresi yang relevan di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana Ramadan.

Teks: Intan Safitri


Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah

  Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...