Showing posts with label Artventure. Show all posts
Showing posts with label Artventure. Show all posts

Sunday, May 18, 2025

Merayakan Literasi Indonesia dalam Parade Masa Balai Pustaka


Foto: Antara

Balai Pustaka menyelenggarakan pameran dan bazar buku bertajuk Parade Masa di Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur, mulai 17 Mei hingga 1 Juni 2025. Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan menjadi kesempatan untuk melihat kembali jejak literasi Indonesia dari masa ke masa.

Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, menjelaskan bahwa Parade Masa diadakan sebagai bagian dari perayaan menuju usia ke-108 Balai Pustaka pada 22 September 2025. Dalam pameran ini, para pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi karya sastra legendaris yang telah diterbitkan oleh Balai Pustaka selama lebih dari satu abad.

Mengusung tema Jelajah Jejak Literasi dari Masa ke Masa, acara ini menampilkan buku-buku berpengaruh yang menjadi bagian dari sejarah sastra Indonesia. Beberapa karya klasik yang dipamerkan antara lain Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, dan Layar Terkembang. Buku-buku ini dikenal luas dan masih memiliki relevansi dalam dunia literasi Indonesia hingga kini.

Selain pameran, pengunjung juga dapat menikmati bazar buku dengan promo besar-besaran. Balai Pustaka menawarkan diskon hingga 95 persen untuk berbagai buku yang dijual, serta paket All You Can Read yang dibanderol Rp125 ribu. Buku-buku yang tersedia mencakup genre yang beragam, mulai dari novel legendaris Indonesia hingga buku budaya, hukum, sains, pendidikan, sejarah, dan biografi.

Tidak hanya sekadar pameran dan bazar, Parade Masa juga menghadirkan berbagai kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap literasi dan seni. Pengunjung dapat mengikuti diskusi sastra, bedah buku, panggung apresiasi, hingga pertunjukan seni budaya yang melibatkan berbagai seniman dan budayawan.

Menurut Achmad, acara ini akan berlanjut dengan tema yang berbeda sepanjang tahun. Setelah Parade Masa pertama, Balai Pustaka akan menggelar Parade Masa 2 pada 3 Juli untuk memperingati Hari Sastra Nasional, serta Parade Masa 3 dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80.

“Kami berharap masyarakat terus mengapresiasi sastra dan literasi Indonesia. Jangan lupa datang kembali pada acara berikutnya,” ujar Achmad.

Tuesday, May 6, 2025

Gramedia Jalma Resmi Dibuka di Blok M, Usung Konsep Toko Buku dan Kafe


Jakarta (6/6/2025) – Gramedia membuka cabang terbarunya bertajuk Gramedia Jalma di kawasan Melawai, Blok M, Jakarta Selatan, pada awal Juni 2025. Berbeda dari toko Gramedia konvensional, gerai ini mengusung konsep hybrid yang memadukan toko buku, ruang baca, dan kafe dalam satu lokasi.

Berada di Jl. Melawai 3 No.12–18, Gramedia Jalma tampil dengan interior modern dan suasana hangat yang mendukung kegiatan literasi dan produktivitas. Di dalamnya tersedia deretan rak buku, spot membaca, serta kafe Kopi Aloo yang terintegrasi langsung dalam area toko.

Manajemen menyebutkan bahwa konsep ini dihadirkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban yang semakin gemar membaca dan bekerja di ruang publik dengan suasana nyaman.

Kehadiran Kopi Aloo di dalam Gramedia Jalma memperkuat fungsi tempat ini sebagai coworking space informal. “Meja panjang ini kerap dimanfaatkan pengunjung untuk bekerja hingga berdiskusi,” ujar Ubay, Manajer Operasional Kopi Aloo, dikutip dari Kompas.com, Jumat (6/6/2025).

Fasilitas yang tersedia mencakup akses listrik di area duduk, koneksi internet, dan beberapa spot semi-privat yang dapat digunakan untuk rapat atau kegiatan kelompok. Menu yang ditawarkan Kopi Aloo pun bervariasi, mulai dari Americano, Es Kopi Susu Aloo, hingga Aloo Latte, yang dapat dipesan sambil menikmati suasana toko.

Toko ini buka setiap hari. Pada hari kerja, jam operasional dimulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB, sementara di akhir pekan dibuka lebih awal mulai pukul 09.30 WIB. Sejak pertama kali dibuka, Gramedia Jalma mulai ramai dikunjungi pelajar, pekerja, hingga keluarga yang mencari ruang baca alternatif di tengah kota.

Kehadiran Gramedia Jalma di Blok M dinilai menambah pilihan ruang publik yang mendukung budaya membaca, sekaligus memperkuat kawasan Melawai sebagai destinasi kreatif dan literasi di Jakarta Selatan.

Sunday, May 4, 2025

Pemprov DKI Perpanjang Jam Operasional Perpustakaan hingga Malam

 

Gubernur Jakarta Pramono Anung saat ditemui di acara Halal Bihalal PWNU di Masjid Al Awwabin, Jakarta Selatan pada Minggu (27/4/2025).(Kompas.com/Hanifah Salsabila)

Jakarta — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana memperpanjang jam operasional perpustakaan dan museum di wilayah ibu kota hingga malam hari. Kebijakan ini merupakan bagian dari program 100 hari kerja Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk meningkatkan akses literasi dan pendidikan bagi masyarakat.

Saat ini, mayoritas perpustakaan di bawah naungan Pemprov DKI hanya beroperasi hingga pukul 16.00 WIB. Pramono menilai jam operasional tersebut terlalu singkat dan tidak memberikan ruang bagi warga yang baru bisa datang setelah selesai bekerja atau beraktivitas di siang hari.

"Perpustakaan akan kami buka sampai malam, mungkin jam 10 atau jam 11 malam. Ini bagian dari memberikan akses pendidikan kepada anak-anak dan masyarakat yang membutuhkan," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat (2/5/2025), dikutip dari Kompas TV.

Salah satu perpustakaan yang akan menerapkan kebijakan ini lebih awal adalah Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. Menurut Pramono, perpustakaan tersebut akan menjadi proyek percontohan sebelum kebijakan diperluas ke seluruh fasilitas perpustakaan dan museum di Jakarta.

"Kita akan mulai dari HB Jassin, menurut saya itu segera, lalu diteruskan ke tempat lain," katanya.

Pramono juga menekankan bahwa kebijakan ini akan diimbangi dengan peningkatan kualitas fasilitas, termasuk pencahayaan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung. Pemerintah juga tengah mengkaji sumber pendanaan, termasuk dari APBD dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Kebijakan ini disambut positif oleh masyarakat. Banyak warga menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengakses perpustakaan pada jam kerja reguler. Di sisi lain, beberapa warga berharap pemerintah juga memperhatikan perawatan fasilitas agar tetap layak digunakan hingga malam hari.

Kebijakan ini disambut positif oleh masyarakat. Banyak warga menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengakses perpustakaan pada jam kerja reguler. Di sisi lain, masyarakat juga berharap pemerintah memperhatikan kesiapan fasilitas penunjang. Mereka menginginkan penerangan yang memadai, kehadiran petugas, serta kenyamanan yang tetap terjaga meski operasional berlangsung hingga malam hari.

Dengan perpanjangan jam operasional ini, Pemprov DKI berharap dapat meningkatkan minat baca dan memperluas kesempatan belajar sepanjang hari bagi seluruh lapisan masyarakat Jakarta.

Sunday, April 27, 2025

DJKI Ajak Masyarakat Lindungi Buku di Hari Buku Sedunia

 

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkum Razilu dalam Technical Meeting Penyampaian Usulan Kegiatan Pendukung Kinerja Program Kekayaan Intelektual di Kantor Wilayah Kemenkum Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (4/2/2025). ANTARA/HO-DJKI Kemenkum RI)

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada 23 April 2025, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap buku sebagai karya cipta yang memiliki nilai hukum dan ekonomi.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Razilu, menegaskan bahwa hak cipta buku bersifat deklaratif. Menurutnya, hak cipta muncul secara otomatis sejak karya diwujudkan dalam bentuk nyata yang dapat dibaca atau diakses oleh publik.

"Penulis tidak diwajibkan mendaftarkan karyanya untuk mendapatkan perlindungan hukum. Namun, pencatatan hak cipta tetap kami anjurkan sebagai alat bukti yang sah apabila terjadi sengketa di kemudian hari," ujar Razilu dalam keterangan resminya, Rabu (23/4).

DJKI menilai pencatatan hak cipta dapat memperkuat posisi hukum pemilik karya, terutama dalam kasus dugaan plagiarisme atau pembajakan. Karena itu, lembaga ini terus mendorong para penulis, penerbit, dan masyarakat umum untuk memanfaatkan layanan pencatatan hak cipta yang tersedia secara daring.

Selain itu, DJKI juga mengimbau masyarakat untuk menghentikan konsumsi serta distribusi buku bajakan, baik dalam format cetak maupun digital. Razilu menekankan bahwa pembajakan tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merugikan para kreator dan melemahkan ekosistem literasi nasional.

"Menghargai karya orang lain melalui cara yang sah adalah langkah awal untuk menciptakan iklim literasi yang sehat dan mendorong lebih banyak penulis Indonesia untuk berkarya," kata Razilu.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan terhadap karya cipta, DJKI saat ini tengah merevisi Undang-Undang Hak Cipta. Rancangan revisi tersebut bertujuan memperjelas batasan perlindungan, mempertegas pengecualian, serta meningkatkan perlindungan hukum bagi para pemilik hak cipta.

DJKI juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam melindungi buku sebagai karya cipta. Caranya adalah dengan membeli buku dari sumber resmi, tidak mengedarkan buku bajakan, serta melaporkan pelanggaran hak cipta yang ditemukan.

"Perlindungan karya cipta harus menjadi gerakan bersama. Tidak cukup hanya pemerintah atau penulis, melainkan pembaca pun memegang peran penting," tutur Razilu.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai hak cipta buku dan tata cara pencatatannya, masyarakat dapat mengakses laman resmi DJKI di www.dgip.go.id.

Tuesday, April 22, 2025

TIM Book Fest 2025 Digelar, Diskon Buku hingga 80 Persen

Jakarta, 22 April 2025 — Festival literasi tahunan TIM Book Fest: Book & Literature Festival 2025 resmi digelar di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Acara berlangsung selama satu bulan, mulai 14 April hingga 14 Mei 2025, dengan rangkaian kegiatan literasi, diskusi, serta bazar buku yang menawarkan potongan harga hingga 80 persen.

Sumber: Instagram.com/@tim.cikini

Kegiatan berpusat di Co-Working Space lantai 3 Gedung Ali Sadikin, TIM. Festival dibuka setiap hari, dengan jam operasional pukul 09.00–17.00 WIB pada Senin hingga Kamis dan pukul 09.00–20.00 WIB pada Jumat hingga Minggu.

Pengunjung dapat memilih ribuan judul buku dari berbagai penerbit nasional dengan harga mulai dari Rp10.000. Genre buku yang ditawarkan bervariasi, mencakup fiksi, nonfiksi, literatur anak, hingga karya sastra klasik dan kontemporer.

“Saya sangat senang bisa datang ke TIM Book Fest 2025 karena banyak sekali buku yang didiskon. Ini kesempatan langka untuk membeli buku berkualitas dengan harga terjangkau, terutama bagi saya yang memang gemar membaca. Banyak pilihan buku dari berbagai genre, dan saya bisa mendapatkan buku-buku yang sulit ditemukan di toko biasa,” ujar Dina, seorang pengunjung yang mengaku antusias setiap kali festival literasi ini digelar.

Beberapa penerbit ternama yang ikut berpartisipasi dalam festival ini antara lain Gramedia Pustaka Utama, Penerbit Mizan, Bentang Pustaka, Elex Media Komputindo, Pustaka Jaya, hingga Banana Publisher. Selain itu, sejumlah penerbit independen dan komunitas literasi juga turut meramaikan acara dengan menghadirkan buku-buku alternatif dan terbitan terbatas.

Selain bazar buku, pengunjung juga disuguhi berbagai kegiatan literasi, antara lain lokakarya kepenulisan, diskusi buku, bedah karya, pertunjukan seni, serta kompetisi menulis dan membaca yang terbuka untuk pelajar maupun umum. Acara juga menghadirkan sesi temu sapa dengan penulis dan pegiat literasi nasional.

“Festival ini bertujuan membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendekatkan diri dengan dunia literasi,” ujar panitia penyelenggara, Muhammad Ilham.

TIM Book Fest 2025 merupakan hasil kolaborasi antara pengelola TIM, penerbit, komunitas literasi, serta lembaga pemerintah yang memiliki kepedulian terhadap budaya baca. Kegiatan ini juga tidak memungut biaya masuk alias gratis bagi pengunjung.

Pihak penyelenggara menargetkan festival ini menjadi ruang inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat dalam mengakses buku dan informasi secara mudah. Kehadiran festival ini diharapkan dapat memperkuat budaya literasi sekaligus menumbuhkan minat baca, terutama di kalangan generasi muda.


Mengunci Ingatan Hadirkan Warisan Sastra Yudhistira ANM Massardi

Jakarta — Pameran sastra bertajuk Mengunci Ingatan resmi dibuka di Galeri PDS-H.B. Jassin, GD. Ali Sadikin Lt. 4, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (19/4). Acara ini diselenggarakan untuk memperingati satu tahun wafatnya sastrawan Yudhistira ANM Massardi. Penyelenggara menampilkan karya-karya penting sang penyair, termasuk puisi, naskah drama, dan catatan pribadi yang belum pernah dipublikasikan.


Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta bersama Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin mempersembahkan Pameran Sastra Mengunci Ingatan- Setahun Kepergian Yudhistira ANM Massardi.Yud

Kurator pameran, Reda Gaudiamo, menyampaikan bahwa pameran ini bertujuan mengenalkan kembali kekuatan bahasa dan ide-ide kritis Yudhistira kepada generasi masa kini. 

“Kami ingin membuka ruang dialog antara karya Yudhistira dan pembacanya hari ini,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Pameran memamerkan puisi terkenal seperti Sajak Sikat Gigi dan Arjuna Mencari Cinta, serta potongan naskah drama Opera Sembelit yang dikenal dengan satire sosialnya. Selain itu, pengunjung dapat melihat langsung naskah asli yang ditulis tangan, lengkap dengan coretan revisi dan catatan proses kreatif penulis.

Instalasi interaktif juga disiapkan, termasuk dokumentasi visual serta rekaman audio Yudhistira membacakan puisinya sendiri. Penyelenggara berharap pendekatan ini dapat memberikan pengalaman yang lebih imersif dan emosional bagi pengunjung.

Beberapa pengunjung menyampaikan kesan mendalam terhadap pameran tersebut. Nadia, mahasiswa, menyebut pameran ini sebagai ruang belajar. 

“Saya melihat langsung bagaimana puisi itu lahir, dari ide mentah sampai jadi karya utuh,” katanya. 

Galih, seorang penikmat sastra, menyatakan bahwa puisi Yudhistira tetap relevan. 

“Meski ditulis puluhan tahun lalu, isinya seperti mencerminkan kondisi hari ini,” ujarnya.

Pameran berlangsung hingga 8 Mei 2025 sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Jakarta yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta. Selain pameran, panitia juga menggelar diskusi sastra, pemutaran film dokumenter, serta pembacaan puisi oleh berbagai tokoh sastra.

Yudhistira ANM Massardi dikenal sebagai pelopor puisi humor di Indonesia. Dua buku terakhirnya, Akhirnya Kita Seperti Dedaun dan Dari Paris untuk Cinta, yang terbit pada awal 2024, memperkuat reputasinya sebagai penyair yang mampu memadukan keindahan, satire, dan kedalaman emosi dalam karyanya.

Pameran ini terbuka untuk umum. Penyelenggara berharap pameran dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penggerak semangat literasi di tengah masyarakat.

Tuesday, March 25, 2025

Peluncuran Buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah Sebagai Sarana Edukasi Masyarakat

Jakarta, 23 Maret 2025 – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., mengapresiasi peluncuran buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya Dr. Noor Huda Ismail. Buku ini dinilai sebagai narasi alternatif yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme serta mencegah penyebarannya di Indonesia.

Sampul Buku Anak Negeri Di Pusaran Konflik Suriah

"Buku ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, baik anak di bawah umur maupun orang dewasa, agar memahami bahaya paham radikal terorisme. Dengan meningkatnya literasi masyarakat, diharapkan penyebaran ideologi ekstremisme dapat diminimalisir," ujar 
Eddy Hartono saat menghadiri peluncuran buku dan pemutaran film Road to Resilience di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (27/2).

Ia menambahkan bahwa buku tersebut tidak hanya mengandung informasi mengenai radikalisme, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman ekstremisme berbasis kekerasan. Menurutnya, narasi alternatif seperti yang disajikan dalam buku ini sangat diperlukan untuk melawan propaganda kelompok radikal yang sering menyasar generasi muda melalui media sosial dan platform digital.

Penulis buku, Dr. Noor Huda Ismail, menjelaskan bahwa buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film Road to Resilience dirancang sebagai alat komunikasi strategis dalam upaya pencegahan ekstremisme. Keduanya diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung keberlanjutan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) 2025–2029.

"Dalam implementasi RAN PE, BNPT bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah. Saya sendiri diminta untuk merancang strategi komunikasi dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, salah satunya melalui transmedia storytelling seperti film dan buku," jelas Noor Huda.

Ia menambahkan bahwa buku ini memberikan gambaran tentang latar belakang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terafiliasi dengan konflik di Suriah, baik yang bergabung secara sukarela maupun mereka yang terjebak dalam pusaran konflik. Dengan memahami faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam jaringan terorisme, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal.

Lebih lanjut, Noor Huda menekankan bahwa pendekatan transmedia storytelling menjadi strategi efektif dalam menyampaikan pesan-pesan deradikalisasi. Menurutnya, media visual seperti film dapat menjangkau lebih banyak audiens, terutama generasi muda yang lebih aktif mengakses informasi melalui media digital.

Peluncuran buku dan film ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai bentuk upaya memperkuat narasi perdamaian dan mencegah penyebaran ideologi ekstremisme di Indonesia. Dengan semakin banyaknya literatur dan media yang mengedukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme, diharapkan upaya deradikalisasi dan pencegahan terorisme dapat berjalan lebih efektif.

Sastra Bulan Purnama Edisi ke-162 Meriahkan Ramadan di Museum Sandi Yogyakarta

Jakarta, 20 Maret – Komunitas sastra bulanan “Sastra Bulan Purnama” kembali menggelar edisi ke-162 pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 15.30 WIB, bertempat di Museum Sandi, Jalan Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, dengan menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi, penampilan musik puisi, dan buka puasa bersama.

Penampilan mantan Bupati Bantul Sri Surya Widati dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-162 (foto: Deny Hermawan)

Empat penyair tampil sebagai pembaca puisi utama, yakni Cahnaning Dewajati, dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); Dedet Setiadi, penyair sekaligus pelaku usaha bahan bangunan; Syam Chandra, pengusaha kuliner mie ayam; dan Umi Kulsum, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul. Keempatnya telah lama dikenal aktif menulis puisi dan memiliki sejumlah karya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.

Selain dibacakan langsung oleh para penyairnya, karya-karya mereka juga ditampilkan oleh sejumlah tokoh lintas profesi, antara lain Agus Suprihono (penulis sastra Jawa), Anes Prabu (penyair muda dan aktor teater), Deni Angga, Meuz Prazt (perupa), Nunung Rieta (pemain teater), Ratih Alsaira (perupa), Sri Surya Widati (Bupati Bantul 2010–2015), Tosa Santosa (organizer fashion show), dan Wahjudi Djaya (dosen dan penulis).

Doni Onfire, musisi biola yang dikenal kerap hadir di Sastra Bulan Purnama, turut memeriahkan panggung dengan menggubah puisi karya Dedet Setiadi dan Umi Kulsum menjadi lagu. “Penampilan kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjadi momen silaturahmi dengan teman-teman lama,” ujar Doni.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan bahwa keempat penyair tetap konsisten menulis meskipun sebagian telah memasuki usia 50 hingga 60 tahun. “Menulis puisi bukan untuk mencari uang. Kalau sesekali dapat honor, itu hanya bonus. Yang utama, menulis puisi adalah cara mereka membahagiakan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Dedet Setiadi, salah satu penyair yang tampil, mengaku meski secara administratif tinggal di Ngluwar, Magelang, ia lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta. “Saya lebih banyak berinteraksi di Yogya. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas sastra di sini,” ucapnya.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa sastra tetap hidup dan menjadi ruang ekspresi yang relevan di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana Ramadan.

Tuesday, March 18, 2025

Lonjakan Pengunjung Perpustakaan Jusuf Kalla Saat Ramadan Mulai Menurun

Jakarta, 18 Maret 2025 – Antusiasme masyarakat mengunjungi Perpustakaan Jusuf Kalla yang sempat meningkat selama awal Ramadan kini mulai menurun. Jika sebelumnya jumlah pengunjung mencapai 350-500 orang per hari, kini angka tersebut perlahan turun mendekati rata-rata kunjungan harian sebelum Ramadan, yaitu sekitar 200 orang.

Penurunan ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Idul fitri. Banyak pengunjung yang sebelumnya datang untuk membaca atau menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa kini lebih memilih fokus pada persiapan mudik atau kegiatan ibadah di rumah dan masjid.

Perpustakaan Jusuf Kalla yang terletak di Universitas Islam Internasional Indonesia, Depok


"Di awal Ramadan, banyak pengunjung yang datang karena ingin mengisi waktu dengan membaca atau mengerjakan tugas. Namun, mendekati akhir bulan, jumlahnya mulai berkurang drastis," ujar Staff perpustakaan, Ahmad Rasyid

Menurutnya, mayoritas pengunjung yang biasanya terdiri dari pelajar dan mahasiswa mulai sibuk dengan persiapan libur Lebaran, sehingga waktu yang mereka habiskan di perpustakaan berkurang. "Kebanyakan yang datang sekarang adalah pengunjung setia yang memang rutin membaca di sini," tambahnya.

Salah satu mahasiswa, Laila (22), mengaku lebih jarang datang ke perpustakaan karena mulai disibukkan dengan persiapan pulang kampung. 

"Awal Ramadan saya sering ke sini karena suasananya tenang, tapi sekarang saya lebih fokus menyelesaikan tugas sebelum liburan," katanya.

Selain faktor libur Lebaran, penurunan jumlah pengunjung juga dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan ibadah di masjid dan pusat keagamaan. Beberapa pengunjung yang sebelumnya menghabiskan waktu membaca di sore hari kini lebih memilih untuk menghadiri kajian Ramadan atau melakukan persiapan menjelang Hari Raya.

Meski mengalami penurunan, pihak pengelola perpustakaan tetap berupaya menarik minat masyarakat dengan berbagai program literasi yang masih berlangsung hingga akhir Ramadan. Beberapa kegiatan, seperti diskusi buku, kajian Islami, serta pameran literatur bertema Ramadan, tetap diadakan untuk mempertahankan antusiasme pengunjung.

"Kami memahami bahwa perubahan aktivitas masyarakat selama Ramadan memengaruhi jumlah kunjungan. Namun, kami berharap kondisi ini hanya bersifat sementara dan setelah Lebaran jumlah pengunjung akan kembali meningkat," kata Ahmad.

Perpustakaan Jusuf Kalla terus berupaya menciptakan suasana yang nyaman agar masyarakat tetap menjadikannya sebagai tempat belajar dan membaca sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.


Monday, March 17, 2025

Menimbang Pramoedya Ananta Toer, Mengurai Warisan Pemikiran Sang Maestro Sastra

Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar nama dalam khazanah sastra Indonesia, melainkan sebuah fenomena yang terus diperbincangkan lintas generasi. Demi mengupas lebih dalam pemikiran dan warisannya, Bentara Budaya Bali bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar diskusi bertajuk Menimbang Pramoedya Ananta Toer: BUMI, MANU, BUDI. Acara yang juga didukung oleh Penerbit GPU dan Gramedia ini berlangsung pada Kamis, 25 April 2024, di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.

PRESS RELEASE Menimbang Pramoedya Ananta Toer “BUMI MANU BUDI” 

Diskusi ini menghadirkan Prof. Koh Young Hun, seorang akademisi dan peneliti sastra Indonesia dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan. Dengan pengalaman luas dalam kajian Pramoedya, Prof. Koh memberikan perspektif mendalam terhadap karya-karya sastrawan besar ini. Perbincangan dipandu oleh Galuh Praba, seorang news anchor yang juga lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Bali-Bhuwana Kanti (Global-Bali Arts and Culture Project Networks) dalam Festival Internasional Bali-Padma Bhuwana IV yang diselenggarakan oleh ISI Denpasar. Dalam sambutannya, Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyoroti bagaimana karya-karya Pramoedya menawarkan perspektif yang lebih humanis tentang Indonesia.

“Dengan membaca Pramoedya, kita diajarkan melihat Indonesia dari sisi paling insani, bukan hanya heroik. Menghayati karya Pram mengarahkan kita pada penghayatan kehidupan—bukan sekadar hidup untuk hidup itu sendiri, melainkan hidup untuk kehidupan,” ujar Prof. Kun Adnyana.

Diskusi ini mengangkat buku Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia karya Prof. Koh Young Hun, yang pertama kali terbit pada 2011 dan kini telah memasuki cetakan keempat dengan sampul baru. Buku ini menganalisis dunia Pram melalui tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai. Kritik sosial yang tajam dalam karya-karya Pram menjadi fokus utama, termasuk bagaimana ia menggambarkan penindasan, ketidakadilan, serta upayanya melestarikan budaya dan sejarah Indonesia.

“Karya-karya Pram memiliki benang merah yang jelas, yaitu humanisme. Untuk memahami pemikirannya, seseorang harus membaca karya-karyanya secara menyeluruh dan utuh, bukan hanya dari satu sisi,” jelas Prof. Koh.

Menariknya, diskusi ini juga mengungkap perjalanan Prof. Koh dalam mengenal Pramoedya sejak era 1980-an. Sebagai Wakil Ketua Korea Association of Malay-Indonesian Studies (KAMIS) dan kini Direktur Indonesia Culture Center di Seoul, Prof. Koh telah lama menaruh perhatian pada sastra Indonesia, khususnya pemikiran Pram.

Tak hanya itu, Prof. Koh juga menerbitkan buku tentang Pramoedya dalam bahasa Korea, berjudul Orang Asing yang Tidak Begitu Asing: Kehidupan dan Kesastraan Pramoedya (낯설지 않은 이방인: 쁘라무디아의 삶과 문학). Buku ini semakin memperluas jangkauan pemikiran Pram ke ranah internasional, terutama di Korea Selatan.

Sebagai pelengkap diskusi, acara ini juga menghadirkan pemutaran dokumenter dan arsip tentang Pramoedya, yang kemudian ditanggapi secara kritis oleh Prof. Koh. Dengan demikian, audiens tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga pengalaman visual mengenai perjalanan intelektual sang maestro.

Sebagaimana dikatakan A. Teeuw, seorang kritikus sastra ternama, Pramoedya adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi atau bahkan satu abad. Pemikirannya yang dipengaruhi oleh humanisme menegaskan kebebasan manusia dari belenggu penindasan, baik kolonialisme maupun ketidakadilan sosial.

Dalam diskusi ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa karya-karya Pramoedya tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga terus bergema hingga saat ini. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pemikiran Pram tetap menjadi rujukan bagi mereka yang mencari keadilan, identitas, dan makna kehidupan.

Dengan perbincangan yang kaya dan analisis yang mendalam, diskusi Menimbang Pramoedya Ananta Toer ini menjadi bukti bahwa warisan intelektual sang sastrawan masih hidup, mengalir, dan terus memberi inspirasi bagi generasi mendatang.


Tuesday, March 11, 2025

Gramedia Hadirkan Makarya, Toko Buku Interaktif di Jakarta

Jakarta, 7 Maret 2025 – Smiljan Makarya, destinasi perpaduan toko buku dan kedai kopi, resmi dibuka di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, pada Selasa (11/2/2025). Inovasi ini hadir sebagai bentuk kolaborasi antara literasi dan gaya hidup modern, memberikan pengalaman baru bagi pengunjung untuk membaca, bekerja, atau sekadar bersantai dengan secangkir kopi.


Salah satu penggagas Smiljan Makarya, Immaculata Adhista atau Adhis, mengungkapkan bahwa konsep ini berawal dari keprihatinan terhadap menurunnya minat baca masyarakat Indonesia. Bersama dua rekannya, Tomi Wibisono dan Rahmat, mereka berupaya mencari cara agar buku kembali menarik perhatian di tengah dominasi gawai dan era digital.

“Kami berpikir, bagaimana membuat orang kembali tertarik membaca? Akhirnya, kami menciptakan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan dengan ditemani kopi,” ujar Adhis dalam acara peresmian Smiljan Makarya.

Tomi Wibisono, yang juga pendiri dan CEO Buku Akik, menambahkan bahwa Makarya tidak sekadar toko buku biasa yang berorientasi pada transaksi. Menurutnya, toko buku seharusnya menjadi tempat untuk meningkatkan literasi, menambah wawasan, serta memberikan ketenangan bagi para pengunjungnya.

“Toko buku harus bisa menjadi ruang healing di tengah kehidupan yang semakin cepat,” Pungkas Tomi.

Konsep ini mendapat dukungan penuh dari Rahmat, pemilik Smiljan Coffee, yang sudah lama berkecimpung di industri kopi. Sejak membuka cabang pertama di Bintaro 2,5 tahun lalu, ia memang bercita-cita menghadirkan kedai kopi yang juga menawarkan ruang baca.

Dengan berdirinya cabang kelima Smiljan di Gramedia Matraman yang berkolaborasi dengan Makarya, Rahmat berharap semakin banyak orang tertarik untuk membaca. 

“Kami ingin memberikan pengalaman multisensori, di mana kopi dan suasana ruang baca yang nyaman bisa menciptakan pengalaman unik bagi para pengunjung,” ujarnya.

Seluas 250 meter persegi, Makarya hadir dengan berbagai kurasi buku yang ditampilkan. Ada kurasi bertemakan setiap penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Iksaka Banu, Dee Lestari, Henry Manampiring, Leila S Chudori, Eka Kurniawan, rak bagian English Edition, sampai Buku Juara yang menampilkan buku-buku yang menang penghargaan.

Smiljan Makarya beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 di Lantai 1 Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Bagi yang ingin menikmati suasana baru dalam membaca sambil menikmati kopi, tempat ini bisa menjadi pilihan menarik.


Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah

  Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...