Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar nama dalam khazanah sastra Indonesia, melainkan sebuah fenomena yang terus diperbincangkan lintas generasi. Demi mengupas lebih dalam pemikiran dan warisannya, Bentara Budaya Bali bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar diskusi bertajuk Menimbang Pramoedya Ananta Toer: BUMI, MANU, BUDI. Acara yang juga didukung oleh Penerbit GPU dan Gramedia ini berlangsung pada Kamis, 25 April 2024, di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.
PRESS RELEASE Menimbang Pramoedya Ananta Toer “BUMI MANU BUDI”Acara
ini merupakan bagian dari rangkaian Bali-Bhuwana Kanti (Global-Bali Arts and
Culture Project Networks) dalam Festival Internasional Bali-Padma Bhuwana IV
yang diselenggarakan oleh ISI Denpasar. Dalam sambutannya, Rektor ISI Denpasar,
Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyoroti bagaimana karya-karya Pramoedya
menawarkan perspektif yang lebih humanis tentang Indonesia.
“Dengan membaca Pramoedya, kita diajarkan melihat Indonesia dari sisi paling insani, bukan hanya heroik. Menghayati karya Pram mengarahkan kita pada penghayatan kehidupan—bukan sekadar hidup untuk hidup itu sendiri, melainkan hidup untuk kehidupan,” ujar Prof. Kun Adnyana.
Diskusi
ini mengangkat buku Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia karya Prof.
Koh Young Hun, yang pertama kali terbit pada 2011 dan kini telah memasuki
cetakan keempat dengan sampul baru. Buku ini menganalisis dunia Pram melalui
tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai. Kritik sosial
yang tajam dalam karya-karya Pram menjadi fokus utama, termasuk bagaimana ia
menggambarkan penindasan, ketidakadilan, serta upayanya melestarikan budaya dan
sejarah Indonesia.
“Karya-karya Pram memiliki benang merah yang jelas, yaitu humanisme. Untuk memahami pemikirannya, seseorang harus membaca karya-karyanya secara menyeluruh dan utuh, bukan hanya dari satu sisi,” jelas Prof. Koh.
Menariknya,
diskusi ini juga mengungkap perjalanan Prof. Koh dalam mengenal Pramoedya sejak
era 1980-an. Sebagai Wakil Ketua Korea Association of Malay-Indonesian Studies
(KAMIS) dan kini Direktur Indonesia Culture Center di Seoul, Prof. Koh telah
lama menaruh perhatian pada sastra Indonesia, khususnya pemikiran Pram.
Tak
hanya itu, Prof. Koh juga menerbitkan buku tentang Pramoedya dalam bahasa
Korea, berjudul Orang Asing yang Tidak Begitu Asing: Kehidupan dan Kesastraan
Pramoedya (낯설지
않은
이방인:
쁘라무디아의
삶과
문학).
Buku ini semakin memperluas jangkauan pemikiran Pram ke ranah internasional,
terutama di Korea Selatan.
Sebagai
pelengkap diskusi, acara ini juga menghadirkan pemutaran dokumenter dan arsip
tentang Pramoedya, yang kemudian ditanggapi secara kritis oleh Prof. Koh.
Dengan demikian, audiens tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga
pengalaman visual mengenai perjalanan intelektual sang maestro.
Sebagaimana
dikatakan A. Teeuw, seorang kritikus sastra ternama, Pramoedya adalah penulis
yang muncul hanya sekali dalam satu generasi atau bahkan satu abad.
Pemikirannya yang dipengaruhi oleh humanisme menegaskan kebebasan manusia dari
belenggu penindasan, baik kolonialisme maupun ketidakadilan sosial.
Dalam
diskusi ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa karya-karya
Pramoedya tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga terus bergema hingga
saat ini. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pemikiran Pram tetap
menjadi rujukan bagi mereka yang mencari keadilan, identitas, dan makna
kehidupan.
Dengan
perbincangan yang kaya dan analisis yang mendalam, diskusi Menimbang Pramoedya
Ananta Toer ini menjadi bukti bahwa warisan intelektual sang sastrawan masih
hidup, mengalir, dan terus memberi inspirasi bagi generasi mendatang.
Teks: Intan Safitri
