Monday, March 17, 2025

Menimbang Pramoedya Ananta Toer, Mengurai Warisan Pemikiran Sang Maestro Sastra

Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar nama dalam khazanah sastra Indonesia, melainkan sebuah fenomena yang terus diperbincangkan lintas generasi. Demi mengupas lebih dalam pemikiran dan warisannya, Bentara Budaya Bali bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar diskusi bertajuk Menimbang Pramoedya Ananta Toer: BUMI, MANU, BUDI. Acara yang juga didukung oleh Penerbit GPU dan Gramedia ini berlangsung pada Kamis, 25 April 2024, di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.

PRESS RELEASE Menimbang Pramoedya Ananta Toer “BUMI MANU BUDI” 

Diskusi ini menghadirkan Prof. Koh Young Hun, seorang akademisi dan peneliti sastra Indonesia dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan. Dengan pengalaman luas dalam kajian Pramoedya, Prof. Koh memberikan perspektif mendalam terhadap karya-karya sastrawan besar ini. Perbincangan dipandu oleh Galuh Praba, seorang news anchor yang juga lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Bali-Bhuwana Kanti (Global-Bali Arts and Culture Project Networks) dalam Festival Internasional Bali-Padma Bhuwana IV yang diselenggarakan oleh ISI Denpasar. Dalam sambutannya, Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyoroti bagaimana karya-karya Pramoedya menawarkan perspektif yang lebih humanis tentang Indonesia.

“Dengan membaca Pramoedya, kita diajarkan melihat Indonesia dari sisi paling insani, bukan hanya heroik. Menghayati karya Pram mengarahkan kita pada penghayatan kehidupan—bukan sekadar hidup untuk hidup itu sendiri, melainkan hidup untuk kehidupan,” ujar Prof. Kun Adnyana.

Diskusi ini mengangkat buku Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia karya Prof. Koh Young Hun, yang pertama kali terbit pada 2011 dan kini telah memasuki cetakan keempat dengan sampul baru. Buku ini menganalisis dunia Pram melalui tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai. Kritik sosial yang tajam dalam karya-karya Pram menjadi fokus utama, termasuk bagaimana ia menggambarkan penindasan, ketidakadilan, serta upayanya melestarikan budaya dan sejarah Indonesia.

“Karya-karya Pram memiliki benang merah yang jelas, yaitu humanisme. Untuk memahami pemikirannya, seseorang harus membaca karya-karyanya secara menyeluruh dan utuh, bukan hanya dari satu sisi,” jelas Prof. Koh.

Menariknya, diskusi ini juga mengungkap perjalanan Prof. Koh dalam mengenal Pramoedya sejak era 1980-an. Sebagai Wakil Ketua Korea Association of Malay-Indonesian Studies (KAMIS) dan kini Direktur Indonesia Culture Center di Seoul, Prof. Koh telah lama menaruh perhatian pada sastra Indonesia, khususnya pemikiran Pram.

Tak hanya itu, Prof. Koh juga menerbitkan buku tentang Pramoedya dalam bahasa Korea, berjudul Orang Asing yang Tidak Begitu Asing: Kehidupan dan Kesastraan Pramoedya (낯설지 않은 이방인: 쁘라무디아의 삶과 문학). Buku ini semakin memperluas jangkauan pemikiran Pram ke ranah internasional, terutama di Korea Selatan.

Sebagai pelengkap diskusi, acara ini juga menghadirkan pemutaran dokumenter dan arsip tentang Pramoedya, yang kemudian ditanggapi secara kritis oleh Prof. Koh. Dengan demikian, audiens tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga pengalaman visual mengenai perjalanan intelektual sang maestro.

Sebagaimana dikatakan A. Teeuw, seorang kritikus sastra ternama, Pramoedya adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi atau bahkan satu abad. Pemikirannya yang dipengaruhi oleh humanisme menegaskan kebebasan manusia dari belenggu penindasan, baik kolonialisme maupun ketidakadilan sosial.

Dalam diskusi ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa karya-karya Pramoedya tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga terus bergema hingga saat ini. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pemikiran Pram tetap menjadi rujukan bagi mereka yang mencari keadilan, identitas, dan makna kehidupan.

Dengan perbincangan yang kaya dan analisis yang mendalam, diskusi Menimbang Pramoedya Ananta Toer ini menjadi bukti bahwa warisan intelektual sang sastrawan masih hidup, mengalir, dan terus memberi inspirasi bagi generasi mendatang.


Teks: Intan Safitri




Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah

  Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...