Industri
literasi Indonesia telah mengalami banyak perubahan dalam beberapa tahun
terakhir, terutama dengan munculnya penulis-penulis muda berbakat yang membawa
warna baru dalam dunia kepenulisan. Salah satu nama yang mencuri perhatian
adalah Erisca Febriani, seorang penulis asal Lampung yang berhasil mengubah
tren literasi digital menjadi fenomena di dunia penerbitan dan perfilman.
Erisca
Febriani lahir pada 25 Maret 1998 di Lampung, Indonesia. Sejak kecil, ia sudah
menunjukkan ketertarikannya pada dunia tulis-menulis. Namun, perjalanan menuju
kesuksesan tidak selalu mulus. Ia mulai menulis sejak duduk di bangku SMP,
menggunakan media sosial seperti Facebook untuk membagikan cerita-ceritanya.
Inspirasi awalnya datang dari kecintaannya terhadap Justin Bieber, yang
mendorongnya untuk menulis cerita fiksi penggemar.
Saat
memasuki SMA, Erisca semakin serius dalam menulis dan mulai mempublikasikan
karyanya di Wattpad, sebuah platform digital yang memungkinkan penulis berbagi
cerita dengan pembaca secara luas. Salah satu karyanya yang berjudul Dear
Nathan menjadi viral dan mendapatkan banyak perhatian dari pembaca remaja.
Kesuksesan
Dear Nathan tidak hanya terbatas pada Wattpad. Novel ini kemudian diterbitkan
secara resmi dan berhasil terjual lebih dari 100.000 eksemplar, menjadikannya
salah satu buku best seller di Indonesia. Popularitasnya yang luar biasa
menarik perhatian Rapi Films, yang kemudian mengadaptasi novel tersebut menjadi
sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Film Dear Nathan sukses besar,
meraih lebih dari 700 ribu penonton di bioskop.
Tak
berhenti di situ, sekuel dari Dear Nathan, yaitu Hello Salma, juga mendapatkan
sambutan hangat dari pembaca dan penonton. Film ini bahkan berhasil menarik
lebih dari 800 ribu penonton, membuktikan bahwa kisah yang ditulis oleh Erisca
memiliki daya tarik yang kuat bagi generasi muda.
Kesuksesan
Erisca Febriani tidak hanya mengukuhkan namanya sebagai penulis berbakat,
tetapi juga mengubah tren literasi di Indonesia. Novel-novel yang awalnya hanya
tersedia di platform digital seperti Wattpad mulai dilirik oleh penerbit besar
dan rumah produksi film. Fenomena ini membuka peluang bagi banyak penulis muda
lainnya untuk berkarya dan mendapatkan pengakuan lebih luas.
Selain
Dear Nathan, Erisca juga menulis berbagai novel lain yang sukses, seperti
Serendipity, Kisah untuk Geri, Kisah untuk Dinda, Dear Nathan: Thank You Salma,
Di Bawah Umur, dan Pancarona. Beberapa di antaranya bahkan diadaptasi menjadi
web series, yang semakin memperluas jangkauan karyanya di dunia hiburan.
Meskipun
telah menelurkan banyak novel best-seller dan sukses diadaptasi ke berbagai
media, Erisca tetap memiliki pandangan unik tentang dunia kepenulisan. Ia tidak
ingin menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama, karena baginya menulis adalah
cara untuk menghibur diri dan berimajinasi bebas tanpa harus terbebani oleh
teori sastra. Hal ini juga menjadi alasan mengapa ia memilih untuk tidak
melanjutkan pendidikan di jurusan sastra, melainkan mengambil studi di bidang
Agroteknologi di Universitas Lampung, dan saat ini sedang melanjutkan
pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor.
Erisca Febriani adalah contoh nyata bagaimana seorang penulis muda dapat mengubah industri literasi dengan kreativitas dan ketekunan. Dari seorang remaja yang menulis di media sosial hingga menjadi penulis best-seller dengan karya yang diadaptasi ke layar lebar, perjalanan Erisca adalah inspirasi bagi banyak orang. Dengan terus berkarya dan menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan remaja, ia telah membuktikan bahwa dunia literasi Indonesia memiliki masa depan yang cerah.
