Tuesday, March 25, 2025

Waitatiri, Karya yang Menjadi Bahan Ajar di Harvard University

Waitatiri, alumni Universitas Indonesia (UI) yang kini menempuh pendidikan di Harvard University berkat beasiswa LPDP, baru-baru ini mencuri perhatian publik. Buku karya Wai, panggilan akrabnya, yang mengangkat isu bullying pada anak-anak, kini dijadikan bahan ajar di salah satu universitas terkemuka di dunia tersebut. Keberhasilan ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Wai, tetapi juga bagi Indonesia sebagai negara asalnya.


Buku yang berjudul The Missing Colors ini merupakan buku bergambar yang menceritakan perjalanan seorang anak yang menjadi korban bullying di sekolah, kemudian bangkit kembali. Dalam buku ini, Wai menggunakan perumpamaan warna-warna untuk menggambarkan emosi yang dirasakan oleh penyintas bullying. Metode ini dipilih Wai agar anak-anak yang membaca buku tersebut dapat lebih mudah memahami perasaan yang sering kali sulit diungkapkan, seperti perasaan cemas, kesedihan, dan kebingungannya. Konsep warna sebagai perasaan ini bertujuan untuk memberikan cara yang lebih visual dan mudah dipahami bagi anak-anak yang mungkin belum cukup mampu untuk menyampaikan emosi mereka dengan kata-kata.

Wai menuturkan bahwa penulisan buku ini didasari oleh keprihatinannya terhadap fenomena bullying yang masih marak terjadi di sekolah-sekolah. “Saya ingin anak-anak tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan ada cara untuk bangkit setelah menghadapi masa sulit. Saya berharap buku ini bisa membantu mereka untuk mengenali dan mengatasi emosi yang mereka rasakan,” ujar Wai saat ditemui dalam sebuah wawancara.

Saat ini, buku The Missing Colors telah menjadi bahan ajar di beberapa kelas di Harvard University, khususnya dalam mata kuliah yang membahas tentang psikologi anak dan pendidikan. Hal ini menjadi sebuah pencapaian luar biasa bagi Wai, karena bukunya dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengajarkan mahasiswa mengenai pentingnya empati dan pemahaman terhadap isu-isu sosial seperti bullying. Dengan diterimanya buku ini sebagai bahan ajar di lingkungan akademik internasional, Wai berharap semakin banyak orang yang peduli dengan isu bullying dan memberikan perhatian lebih terhadap dampak negatif yang ditimbulkan, terutama pada anak-anak.

Waitatiri yang sebelumnya menempuh pendidikan di jurusan Sastra Jerman UI, melanjutkan studi di Harvard University di jurusan Learning Design, Information and Technology berkat beasiswa LPDP. Perjalanan akademiknya yang luar biasa menunjukkan bahwa Wai memiliki komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan dan pengembangan diri. Selain menulis buku, Wai juga memiliki pengalaman profesional sebagai copywriter dan creative marketing, serta memiliki semangat tinggi dalam dunia edukasi. Hal ini terbukti dari inisiatifnya dalam program PonselUntukSekolah pada tahun 2020, yang bertujuan untuk menyediakan smartphone dan paket internet bagi anak-anak yang membutuhkan, guna mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Program PonselUntukSekolah yang digagas Wai pada masa pandemi Covid-19 ini menjadi solusi nyata bagi banyak anak-anak yang kesulitan mengikuti pembelajaran online karena keterbatasan akses teknologi. Program ini berhasil menyalurkan 20 smartphone lengkap dengan paket internet untuk digunakan oleh anak-anak dan orang tua yang membutuhkan. Inisiatif sosial Wai ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan memberikan dampak langsung bagi pendidikan anak-anak yang terdampak oleh pandemi. Program tersebut juga menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli dengan kebutuhan pendidikan anak-anak yang kurang mampu.

Buku The Missing Colors dan program sosial Wai adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat berperan dalam menciptakan perubahan sosial melalui pendidikan dan karya-karya yang bermakna. Tidak hanya mengedukasi tentang pentingnya empati dan solidaritas terhadap sesama, Wai juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif berkontribusi dalam mengatasi masalah sosial yang ada di sekitar mereka.

Selain itu, dengan pengakuan dunia internasional atas karyanya, Waitatiri menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda Indonesia. Wai menunjukkan bahwa karya sederhana yang berfokus pada isu sosial dapat memiliki dampak yang luas, bahkan di tingkat global. Keberhasilannya menginspirasi banyak orang, khususnya anak muda Indonesia, untuk berani mengungkapkan pandangan dan karya mereka serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Sebagai alumni UI yang kini berkuliah di Harvard, Wai membuktikan bahwa dengan semangat belajar, kepedulian sosial, dan dedikasi, seseorang dapat meraih prestasi yang luar biasa dan memberi dampak besar bagi dunia.

Ke depan, Wai berencana untuk terus mengembangkan ide-ide inovatif dalam dunia pendidikan, dengan harapan bisa memberikan kontribusi lebih besar dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua anak. Buku The Missing Colors hanyalah awal dari perjalanan panjangnya dalam mengangkat isu-isu sosial dan menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Dengan semangat yang terus menyala, Wai bertekad untuk terus belajar, berkarya, dan menginspirasi.

Merenung Lewat Sastra: Rekomendasi Buku Fiksi Bertema Orde Baru untuk Menyusuri Sejarah Indonesia


Era Orde Baru adalah salah satu periode yang penuh dengan dinamika politik, sosial, dan budaya di Indonesia. Dengan panjangnya waktu yang mencakup lebih dari tiga dekade, banyak peristiwa besar yang membentuk wajah negara ini. Bagi banyak penulis, masa Orde Baru menjadi tema yang sarat dengan refleksi dan kritik sosial yang mendalam, yang bisa dirasakan melalui karya-karya sastra. Jika Anda tertarik mengeksplorasi sisi lain dari sejarah Indonesia pada masa tersebut, berikut adalah beberapa buku fiksi yang dapat membantu membuka pemahaman tentang Orde Baru, sekaligus memberikan pengalaman membaca yang menarik dan menyentuh.

Tetralogi Buru - Pramoedya Ananta Toer

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu karya sastra terbesar yang berkaitan dengan masa Orde Baru adalah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi ini terdiri dari empat buku: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Meskipun karya ini pertama kali ditulis pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, keberaniannya dalam menyuarakan kritik terhadap penguasa Orde Baru membuat karya ini tetap relevan hingga kini.
Cerita dalam Tetralogi Buru berfokus pada Minke, seorang pemuda pribumi yang berjuang melawan ketidakadilan kolonialisme Belanda serta mempertanyakan otoritas politik di masa penjajahan. Meskipun latar belakang cerita adalah masa kolonial, banyak tema yang juga mencerminkan kehidupan politik dan sosial di Indonesia pada masa Orde Baru. Kritik terhadap otoritarianisme, perbedaan kelas sosial, dan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat menjadi cermin nyata yang mencerminkan kondisi Indonesia pada masa itu.

Pulang - Leila S. Chudori

Buku Pulang karya Leila S. Chudori mengangkat tema pengasingan politik yang dialami oleh banyak tokoh Indonesia pada masa Orde Baru. Dalam novel ini, Leila menggambarkan kehidupan para eksil yang terpaksa meninggalkan Indonesia akibat peristiwa 1965 dan situasi politik yang memanas. Tokoh utama, Sirkus, harus menjalani kehidupan di Paris setelah pelarian dari Jakarta, sementara di Indonesia terjadi perubahan besar dalam politik dan masyarakat.
Pulang tidak hanya bercerita tentang pengasingan, tetapi juga tentang identitas dan perasaan rindu terhadap tanah air. Chudori dengan elegan menggambarkan bagaimana Orde Baru mengubah kehidupan banyak orang, terutama mereka yang memiliki pandangan politik yang berbeda dengan rezim saat itu. Buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan dampak dari otoritarianisme terhadap kehidupan individu, baik yang berada di dalam negeri maupun yang terpaksa meninggalkan tanah air.

Laut Bercerita - Leila S. Chudori

Selain Pulang, Leila S. Chudori juga menulis karya lain yang menyentuh tentang kehidupan pada masa Orde Baru, yaitu Laut Bercerita. Novel ini menyajikan kisah tentang seorang wanita bernama Samara yang kembali ke tanah kelahirannya setelah lama berada di luar negeri. Di balik perjalanan Samara yang tampaknya sederhana, terungkaplah kisah-kisah penuh penderitaan, kehilangan, dan kenangan akan masa-masa yang gelap di bawah rezim Orde Baru.
Dalam Laut Bercerita, Chudori menyelami kedalaman psikologis tokoh-tokohnya, serta menggambarkan bagaimana trauma akibat peristiwa-peristiwa besar, seperti pembantaian tahun 1965, terus membekas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui novel ini, pembaca dapat merasakan betapa kuatnya dampak masa lalu terhadap kehidupan orang-orang yang terlibat dalam sejarah kelam tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Amba - Laksmi Pamuntjak

Buku Amba karya Laksmi Pamuntjak juga merupakan karya sastra yang menyoroti peristiwa sejarah Indonesia yang berhubungan dengan masa Orde Baru, khususnya tragedi 1965. Novel ini menggambarkan kisah cinta antara Amba dan Sjaif, yang terpisah oleh berbagai peristiwa besar yang terjadi di tanah air. Dalam cerita ini, Laksmi Pamuntjak dengan cermat menggambarkan bagaimana kekejaman politik Orde Baru menghancurkan kehidupan banyak orang, terutama mereka yang terlibat dalam Gerakan 30 September (G30S).
Melalui kisah Amba dan Sjaif, Pamuntjak mengajak pembaca untuk menyelami penderitaan yang dialami oleh mereka yang menjadi korban dari politik balas dendam Orde Baru. Selain itu, Amba juga menyoroti bagaimana sebuah cinta bisa bertahan meskipun terhalang oleh waktu dan kekerasan sejarah.

Saksi - Agus Noor

Lautan Bercerita dan Amba lebih banyak berkisar pada tokoh-tokoh yang mengalami dampak sosial-politik masa Orde Baru di luar negeri, sementara Saksi karya Agus Noor memberikan perspektif berbeda tentang mereka yang berada di dalam negeri, khususnya para korban yang terlibat dalam berbagai kekerasan politik. Dalam Saksi, Noor menggambarkan sosok seorang pria yang harus menyaksikan kehancuran hidupnya akibat keterlibatannya dalam sebuah tragedi sejarah yang terjadi di bawah pemerintahan Orde Baru.
Melalui novel ini, Noor mengajak pembaca untuk merenung tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sejarah, serta bagaimana mereka yang dianggap "pembangkang" atau "musuh negara" pada masa tersebut seringkali menjadi korban kebijakan yang tidak adil.

Buku-buku yang mengangkat tema Orde Baru, seperti Tetralogi Buru, Pulang, Laut Bercerita, Amba, dan Saksi, bukan hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga memberi wawasan tentang bagaimana sejarah Indonesia terjalin dengan kehidupan sosial dan pribadi masyarakat. Karya-karya ini membuka ruang untuk merenung tentang apa yang telah terjadi pada masa Orde Baru, serta bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut membentuk identitas bangsa hingga saat ini. Bagi Anda yang ingin lebih mendalami dinamika sosial-politik masa lalu Indonesia, karya-karya ini bisa menjadi pintu untuk memahami dan merenungkan sejarah melalui lensa sastra yang penuh makna.

Peluncuran Buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah Sebagai Sarana Edukasi Masyarakat

Jakarta, 23 Maret 2025 – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., mengapresiasi peluncuran buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya Dr. Noor Huda Ismail. Buku ini dinilai sebagai narasi alternatif yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme serta mencegah penyebarannya di Indonesia.

Sampul Buku Anak Negeri Di Pusaran Konflik Suriah

"Buku ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, baik anak di bawah umur maupun orang dewasa, agar memahami bahaya paham radikal terorisme. Dengan meningkatnya literasi masyarakat, diharapkan penyebaran ideologi ekstremisme dapat diminimalisir," ujar 
Eddy Hartono saat menghadiri peluncuran buku dan pemutaran film Road to Resilience di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (27/2).

Ia menambahkan bahwa buku tersebut tidak hanya mengandung informasi mengenai radikalisme, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman ekstremisme berbasis kekerasan. Menurutnya, narasi alternatif seperti yang disajikan dalam buku ini sangat diperlukan untuk melawan propaganda kelompok radikal yang sering menyasar generasi muda melalui media sosial dan platform digital.

Penulis buku, Dr. Noor Huda Ismail, menjelaskan bahwa buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film Road to Resilience dirancang sebagai alat komunikasi strategis dalam upaya pencegahan ekstremisme. Keduanya diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung keberlanjutan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) 2025–2029.

"Dalam implementasi RAN PE, BNPT bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah. Saya sendiri diminta untuk merancang strategi komunikasi dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, salah satunya melalui transmedia storytelling seperti film dan buku," jelas Noor Huda.

Ia menambahkan bahwa buku ini memberikan gambaran tentang latar belakang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terafiliasi dengan konflik di Suriah, baik yang bergabung secara sukarela maupun mereka yang terjebak dalam pusaran konflik. Dengan memahami faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam jaringan terorisme, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal.

Lebih lanjut, Noor Huda menekankan bahwa pendekatan transmedia storytelling menjadi strategi efektif dalam menyampaikan pesan-pesan deradikalisasi. Menurutnya, media visual seperti film dapat menjangkau lebih banyak audiens, terutama generasi muda yang lebih aktif mengakses informasi melalui media digital.

Peluncuran buku dan film ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai bentuk upaya memperkuat narasi perdamaian dan mencegah penyebaran ideologi ekstremisme di Indonesia. Dengan semakin banyaknya literatur dan media yang mengedukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme, diharapkan upaya deradikalisasi dan pencegahan terorisme dapat berjalan lebih efektif.

Sastra Bulan Purnama Edisi ke-162 Meriahkan Ramadan di Museum Sandi Yogyakarta

Jakarta, 20 Maret – Komunitas sastra bulanan “Sastra Bulan Purnama” kembali menggelar edisi ke-162 pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 15.30 WIB, bertempat di Museum Sandi, Jalan Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, dengan menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi, penampilan musik puisi, dan buka puasa bersama.

Penampilan mantan Bupati Bantul Sri Surya Widati dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-162 (foto: Deny Hermawan)

Empat penyair tampil sebagai pembaca puisi utama, yakni Cahnaning Dewajati, dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); Dedet Setiadi, penyair sekaligus pelaku usaha bahan bangunan; Syam Chandra, pengusaha kuliner mie ayam; dan Umi Kulsum, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul. Keempatnya telah lama dikenal aktif menulis puisi dan memiliki sejumlah karya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.

Selain dibacakan langsung oleh para penyairnya, karya-karya mereka juga ditampilkan oleh sejumlah tokoh lintas profesi, antara lain Agus Suprihono (penulis sastra Jawa), Anes Prabu (penyair muda dan aktor teater), Deni Angga, Meuz Prazt (perupa), Nunung Rieta (pemain teater), Ratih Alsaira (perupa), Sri Surya Widati (Bupati Bantul 2010–2015), Tosa Santosa (organizer fashion show), dan Wahjudi Djaya (dosen dan penulis).

Doni Onfire, musisi biola yang dikenal kerap hadir di Sastra Bulan Purnama, turut memeriahkan panggung dengan menggubah puisi karya Dedet Setiadi dan Umi Kulsum menjadi lagu. “Penampilan kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjadi momen silaturahmi dengan teman-teman lama,” ujar Doni.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan bahwa keempat penyair tetap konsisten menulis meskipun sebagian telah memasuki usia 50 hingga 60 tahun. “Menulis puisi bukan untuk mencari uang. Kalau sesekali dapat honor, itu hanya bonus. Yang utama, menulis puisi adalah cara mereka membahagiakan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Dedet Setiadi, salah satu penyair yang tampil, mengaku meski secara administratif tinggal di Ngluwar, Magelang, ia lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta. “Saya lebih banyak berinteraksi di Yogya. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas sastra di sini,” ucapnya.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa sastra tetap hidup dan menjadi ruang ekspresi yang relevan di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana Ramadan.

Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah

  Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...