Tuesday, March 25, 2025
Waitatiri, Karya yang Menjadi Bahan Ajar di Harvard University
Merenung Lewat Sastra: Rekomendasi Buku Fiksi Bertema Orde Baru untuk Menyusuri Sejarah Indonesia
Peluncuran Buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah Sebagai Sarana Edukasi Masyarakat
Jakarta, 23 Maret 2025 – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., mengapresiasi peluncuran buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya Dr. Noor Huda Ismail. Buku ini dinilai sebagai narasi alternatif yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme serta mencegah penyebarannya di Indonesia.
Sampul Buku Anak Negeri Di Pusaran Konflik Suriah
"Buku ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, baik anak di bawah umur maupun orang dewasa, agar memahami bahaya paham radikal terorisme. Dengan meningkatnya literasi masyarakat, diharapkan penyebaran ideologi ekstremisme dapat diminimalisir," ujar Eddy Hartono saat menghadiri peluncuran buku dan pemutaran film Road to Resilience di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (27/2).Ia menambahkan bahwa buku tersebut tidak hanya mengandung informasi mengenai radikalisme, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman ekstremisme berbasis kekerasan. Menurutnya, narasi alternatif seperti yang disajikan dalam buku ini sangat diperlukan untuk melawan propaganda kelompok radikal yang sering menyasar generasi muda melalui media sosial dan platform digital.
Penulis buku, Dr. Noor Huda Ismail, menjelaskan bahwa buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film Road to Resilience dirancang sebagai alat komunikasi strategis dalam upaya pencegahan ekstremisme. Keduanya diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung keberlanjutan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) 2025–2029.
"Dalam implementasi RAN PE, BNPT bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah. Saya sendiri diminta untuk merancang strategi komunikasi dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, salah satunya melalui transmedia storytelling seperti film dan buku," jelas Noor Huda.
Ia menambahkan bahwa buku ini memberikan gambaran tentang latar belakang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terafiliasi dengan konflik di Suriah, baik yang bergabung secara sukarela maupun mereka yang terjebak dalam pusaran konflik. Dengan memahami faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam jaringan terorisme, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal.
Lebih lanjut, Noor Huda menekankan bahwa pendekatan transmedia storytelling menjadi strategi efektif dalam menyampaikan pesan-pesan deradikalisasi. Menurutnya, media visual seperti film dapat menjangkau lebih banyak audiens, terutama generasi muda yang lebih aktif mengakses informasi melalui media digital.
Peluncuran buku dan film ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai bentuk upaya memperkuat narasi perdamaian dan mencegah penyebaran ideologi ekstremisme di Indonesia. Dengan semakin banyaknya literatur dan media yang mengedukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme, diharapkan upaya deradikalisasi dan pencegahan terorisme dapat berjalan lebih efektif.
Sastra Bulan Purnama Edisi ke-162 Meriahkan Ramadan di Museum Sandi Yogyakarta
Jakarta, 20 Maret – Komunitas sastra bulanan “Sastra Bulan Purnama” kembali menggelar edisi ke-162 pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 15.30 WIB, bertempat di Museum Sandi, Jalan Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, dengan menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi, penampilan musik puisi, dan buka puasa bersama.
Penampilan mantan Bupati Bantul Sri Surya Widati dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-162 (foto: Deny Hermawan)
Empat penyair tampil sebagai pembaca puisi utama, yakni Cahnaning Dewajati, dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); Dedet Setiadi, penyair sekaligus pelaku usaha bahan bangunan; Syam Chandra, pengusaha kuliner mie ayam; dan Umi Kulsum, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul. Keempatnya telah lama dikenal aktif menulis puisi dan memiliki sejumlah karya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.
Selain dibacakan langsung oleh para penyairnya, karya-karya mereka juga ditampilkan oleh sejumlah tokoh lintas profesi, antara lain Agus Suprihono (penulis sastra Jawa), Anes Prabu (penyair muda dan aktor teater), Deni Angga, Meuz Prazt (perupa), Nunung Rieta (pemain teater), Ratih Alsaira (perupa), Sri Surya Widati (Bupati Bantul 2010–2015), Tosa Santosa (organizer fashion show), dan Wahjudi Djaya (dosen dan penulis).
Doni Onfire, musisi biola yang dikenal kerap hadir di Sastra Bulan Purnama, turut memeriahkan panggung dengan menggubah puisi karya Dedet Setiadi dan Umi Kulsum menjadi lagu. “Penampilan kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjadi momen silaturahmi dengan teman-teman lama,” ujar Doni.
Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan bahwa keempat penyair tetap konsisten menulis meskipun sebagian telah memasuki usia 50 hingga 60 tahun. “Menulis puisi bukan untuk mencari uang. Kalau sesekali dapat honor, itu hanya bonus. Yang utama, menulis puisi adalah cara mereka membahagiakan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.
Dedet Setiadi, salah satu penyair yang tampil, mengaku meski secara administratif tinggal di Ngluwar, Magelang, ia lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta. “Saya lebih banyak berinteraksi di Yogya. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas sastra di sini,” ucapnya.
Acara ditutup dengan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa sastra tetap hidup dan menjadi ruang ekspresi yang relevan di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana Ramadan.
Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah
Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...
-
Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...
-
Hans Bague Jassin, atau yang lebih dikenal sebagai HB Jassin, merupakan figur sentral dalam perkembangan kritik sastra Indonesia. Sebagai kr...
-
Di era digital, media sosial telah menjadi wadah bagi para kreator untuk mengekspresikan diri dan berbagi karya mereka dengan dunia. Salah...



