Tuesday, March 25, 2025
Waitatiri, Karya yang Menjadi Bahan Ajar di Harvard University
Merenung Lewat Sastra: Rekomendasi Buku Fiksi Bertema Orde Baru untuk Menyusuri Sejarah Indonesia
Peluncuran Buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah Sebagai Sarana Edukasi Masyarakat
Jakarta, 23 Maret 2025 – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., mengapresiasi peluncuran buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya Dr. Noor Huda Ismail. Buku ini dinilai sebagai narasi alternatif yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme serta mencegah penyebarannya di Indonesia.
Sampul Buku Anak Negeri Di Pusaran Konflik Suriah
"Buku ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, baik anak di bawah umur maupun orang dewasa, agar memahami bahaya paham radikal terorisme. Dengan meningkatnya literasi masyarakat, diharapkan penyebaran ideologi ekstremisme dapat diminimalisir," ujar Eddy Hartono saat menghadiri peluncuran buku dan pemutaran film Road to Resilience di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (27/2).Ia menambahkan bahwa buku tersebut tidak hanya mengandung informasi mengenai radikalisme, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman ekstremisme berbasis kekerasan. Menurutnya, narasi alternatif seperti yang disajikan dalam buku ini sangat diperlukan untuk melawan propaganda kelompok radikal yang sering menyasar generasi muda melalui media sosial dan platform digital.
Penulis buku, Dr. Noor Huda Ismail, menjelaskan bahwa buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film Road to Resilience dirancang sebagai alat komunikasi strategis dalam upaya pencegahan ekstremisme. Keduanya diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung keberlanjutan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) 2025–2029.
"Dalam implementasi RAN PE, BNPT bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah. Saya sendiri diminta untuk merancang strategi komunikasi dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, salah satunya melalui transmedia storytelling seperti film dan buku," jelas Noor Huda.
Ia menambahkan bahwa buku ini memberikan gambaran tentang latar belakang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terafiliasi dengan konflik di Suriah, baik yang bergabung secara sukarela maupun mereka yang terjebak dalam pusaran konflik. Dengan memahami faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam jaringan terorisme, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal.
Lebih lanjut, Noor Huda menekankan bahwa pendekatan transmedia storytelling menjadi strategi efektif dalam menyampaikan pesan-pesan deradikalisasi. Menurutnya, media visual seperti film dapat menjangkau lebih banyak audiens, terutama generasi muda yang lebih aktif mengakses informasi melalui media digital.
Peluncuran buku dan film ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai bentuk upaya memperkuat narasi perdamaian dan mencegah penyebaran ideologi ekstremisme di Indonesia. Dengan semakin banyaknya literatur dan media yang mengedukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme, diharapkan upaya deradikalisasi dan pencegahan terorisme dapat berjalan lebih efektif.
Sastra Bulan Purnama Edisi ke-162 Meriahkan Ramadan di Museum Sandi Yogyakarta
Jakarta, 20 Maret – Komunitas sastra bulanan “Sastra Bulan Purnama” kembali menggelar edisi ke-162 pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 15.30 WIB, bertempat di Museum Sandi, Jalan Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, dengan menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi, penampilan musik puisi, dan buka puasa bersama.
Penampilan mantan Bupati Bantul Sri Surya Widati dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-162 (foto: Deny Hermawan)
Empat penyair tampil sebagai pembaca puisi utama, yakni Cahnaning Dewajati, dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); Dedet Setiadi, penyair sekaligus pelaku usaha bahan bangunan; Syam Chandra, pengusaha kuliner mie ayam; dan Umi Kulsum, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul. Keempatnya telah lama dikenal aktif menulis puisi dan memiliki sejumlah karya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.
Selain dibacakan langsung oleh para penyairnya, karya-karya mereka juga ditampilkan oleh sejumlah tokoh lintas profesi, antara lain Agus Suprihono (penulis sastra Jawa), Anes Prabu (penyair muda dan aktor teater), Deni Angga, Meuz Prazt (perupa), Nunung Rieta (pemain teater), Ratih Alsaira (perupa), Sri Surya Widati (Bupati Bantul 2010–2015), Tosa Santosa (organizer fashion show), dan Wahjudi Djaya (dosen dan penulis).
Doni Onfire, musisi biola yang dikenal kerap hadir di Sastra Bulan Purnama, turut memeriahkan panggung dengan menggubah puisi karya Dedet Setiadi dan Umi Kulsum menjadi lagu. “Penampilan kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjadi momen silaturahmi dengan teman-teman lama,” ujar Doni.
Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan bahwa keempat penyair tetap konsisten menulis meskipun sebagian telah memasuki usia 50 hingga 60 tahun. “Menulis puisi bukan untuk mencari uang. Kalau sesekali dapat honor, itu hanya bonus. Yang utama, menulis puisi adalah cara mereka membahagiakan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.
Dedet Setiadi, salah satu penyair yang tampil, mengaku meski secara administratif tinggal di Ngluwar, Magelang, ia lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta. “Saya lebih banyak berinteraksi di Yogya. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas sastra di sini,” ucapnya.
Acara ditutup dengan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa sastra tetap hidup dan menjadi ruang ekspresi yang relevan di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana Ramadan.
Tuesday, March 18, 2025
Tan Malaka: Pejuang Revolusi yang Terlupakan, Pemikirannya Tetap Abadi
Tan
Malaka adalah salah satu tokoh revolusi Indonesia yang namanya sering
terlupakan dalam sejarah resmi. Ia dikenal sebagai pemikir, pejuang
kemerdekaan, dan aktivis politik yang memiliki gagasan revolusioner tentang
sosialisme dan kemerdekaan Indonesia. Perannya dalam perjuangan kemerdekaan
sangat besar, tetapi ia kerap dianggap sebagai sosok kontroversial karena
pemikirannya yang berbeda dengan para pemimpin nasional lainnya.
Meskipun
banyak jasanya dalam memperjuangkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat, Tan
Malaka mengalami berbagai tekanan politik, bahkan hingga akhir hayatnya.
Ironisnya, tokoh yang gigih memperjuangkan kemerdekaan ini justru dieksekusi
oleh bangsanya sendiri. Bagaimana perjalanan hidup Tan Malaka hingga akhirnya
ia menjadi salah satu sosok yang dilupakan dalam sejarah?
Tan
Malaka lahir dengan nama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka pada 2 Juni 1897 di
Nagari Pandan Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ia berasal
dari keluarga Minangkabau yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Sejak
kecil, Tan Malaka dikenal sebagai anak yang cerdas dan berjiwa kritis.
Kemampuannya dalam berpikir logis dan rasional membawanya mendapatkan beasiswa
untuk bersekolah di Rijkskweekschool, Belanda, pada tahun 1913.
Selama
di Belanda, Tan Malaka mulai mengenal gagasan sosialisme dan marxisme yang saat
itu berkembang pesat di Eropa. Ia banyak membaca literatur politik dan
filsafat, yang akhirnya membentuk pemikirannya tentang perjuangan rakyat
tertindas, termasuk rakyat Indonesia yang saat itu masih berada di bawah
penjajahan Belanda.
Sekembalinya
ke Indonesia, Tan Malaka aktif dalam pergerakan nasional. Ia menjadi seorang
pengajar dan mulai menyebarkan pemikirannya kepada murid-muridnya. Namun,
karena pandangan politiknya yang radikal dan dianggap membahayakan kolonialisme
Belanda, ia mulai diawasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya, ia harus
hidup dalam pengasingan selama bertahun-tahun di berbagai negara, termasuk
Filipina, China, dan Uni Soviet.
Selama
dalam pengasingan, Tan Malaka tetap aktif menulis dan menyebarkan ide-idenya.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Madilog (Materialisme,
Dialektika, dan Logika), sebuah buku yang menekankan pentingnya berpikir
rasional dan ilmiah dalam perjuangan bangsa. Ia mengkritik pola pikir yang
masih bergantung pada mitos dan takhayul, yang menurutnya dapat menghambat
kemajuan masyarakat Indonesia.
Tan
Malaka juga memperkenalkan konsep revolusi total, di mana kemerdekaan harus
diperjuangkan dengan cara yang lebih tegas, bahkan dengan perlawanan bersenjata
jika diperlukan. Berbeda dengan kelompok nasionalis lain yang lebih memilih
jalur diplomasi, Tan Malaka percaya bahwa Indonesia hanya bisa benar-benar
merdeka melalui perjuangan rakyat secara langsung.
Ketika
Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Tan Malaka melihat ini sebagai peluang
untuk mempercepat perjuangan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu
pada 1945, ia kembali ke Indonesia dan berusaha membangun gerakan revolusioner
untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya Belanda.
Tan
Malaka mendirikan Partai Murba sebagai wadah perjuangan politiknya, tetapi
pemikirannya yang keras dan berbeda dengan arus utama politik saat itu
membuatnya memiliki banyak musuh. Ia tidak hanya berhadapan dengan Belanda,
tetapi juga dengan sesama pejuang kemerdekaan yang lebih memilih jalur
diplomasi.
Pada
1948, situasi politik Indonesia semakin memanas dengan adanya perpecahan antara
kelompok nasionalis, komunis, dan militer. Tan Malaka, yang memiliki pandangan
sendiri mengenai revolusi, akhirnya dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah.
Pada 21 Februari 1949, ia ditangkap dan dieksekusi di Kediri oleh tentara
Divisi Brawijaya tanpa pengadilan yang jelas.
Meskipun
Tan Malaka sempat dihapus dari catatan resmi sejarah Indonesia, gagasannya
tetap hidup dan terus menjadi inspirasi bagi banyak generasi. Pemikiran
kritisnya mengenai perjuangan rakyat, pentingnya pendidikan, serta konsep
revolusi masih relevan hingga saat ini.
Pada
1963, Presiden Soekarno akhirnya mengakui Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
Namun, meskipun telah mendapatkan gelar tersebut, peran dan kontribusinya dalam
perjuangan kemerdekaan masih belum sepenuhnya mendapatkan tempat yang layak
dalam narasi sejarah nasional.
Tan
Malaka adalah sosok revolusioner yang ide-idenya melampaui zamannya. Ia tidak
hanya berjuang melawan kolonialisme, tetapi juga melawan pola pikir yang
menghambat kemajuan bangsa. Meskipun namanya sempat dilupakan, warisan
pemikirannya tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Kisah Tan Malaka adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berjuang di garis depan, tetapi juga oleh mereka yang menolak tunduk pada kompromi. Mengingat dan mempelajari kembali perjuangannya adalah langkah penting dalam memahami lebih dalam sejarah serta jati diri bangsa Indonesia.
Minat Baca Rendah, Upaya Peningkatan Literasi Terus Dilakukan
Jakarta, 15 Maret 2025 – Minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah berdasarkan data UNESCO, yang mencatat indeks minat baca hanya sebesar 0,001%. Ini berarti hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca tinggi. Selain itu, survei Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 menempatkan Indonesia di peringkat ke-62 dari 70 negara dalam hal kemampuan literasi.
Bazar buku murah yang diselenggarakan oleh Jakpro |
Meskipun
demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan literasi, khususnya
di kalangan generasi muda. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah mengadakan
program Pemberdayaan Komunitas Literasi di berbagai provinsi, termasuk DKI
Jakarta. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di
tengah masyarakat. Selain itu, berbagai kegiatan seperti lokakarya literasi,
bedah buku, serta diskusi terbuka semakin digencarkan untuk menarik minat baca
masyarakat.
Selain
itu, pemerintah mengalokasikan dana bantuan untuk 340 komunitas penggerak
literasi di Indonesia. Setiap komunitas terpilih menerima bantuan senilai Rp50
juta guna memperkuat program literasi mereka. Langkah ini diharapkan dapat
memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat baca, khususnya di
kalangan pelajar dan mahasiswa. Beberapa komunitas literasi juga menggandeng
pegiat media sosial untuk mempromosikan pentingnya membaca melalui
konten-konten kreatif yang lebih menarik bagi anak muda.
Kendati
data menunjukkan bahwa minat baca masih rendah, adanya peningkatan jumlah
komunitas literasi dan berbagai program pemerintah yang mendukung literasi
menunjukkan adanya tren perbaikan. Namun, data spesifik mengenai peningkatan
minat terhadap sastra di kalangan generasi muda masih perlu diteliti lebih
lanjut. Sebagian pengamat literasi menilai bahwa faktor utama yang menghambat
perkembangan literasi adalah kurangnya akses terhadap buku berkualitas dan
rendahnya kebiasaan membaca sejak usia dini.
Dengan
adanya berbagai upaya ini, diharapkan minat baca dan literasi masyarakat
Indonesia dapat meningkat, sehingga membentuk generasi yang lebih kritis dan
berwawasan luas. Selain itu, keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat,
termasuk orang tua, sekolah, dan komunitas literasi, menjadi kunci utama dalam
membangun budaya membaca yang lebih kuat di masa depan.
Lonjakan Pengunjung Perpustakaan Jusuf Kalla Saat Ramadan Mulai Menurun
Jakarta, 18 Maret 2025 – Antusiasme masyarakat mengunjungi Perpustakaan Jusuf Kalla yang sempat meningkat selama awal Ramadan kini mulai menurun. Jika sebelumnya jumlah pengunjung mencapai 350-500 orang per hari, kini angka tersebut perlahan turun mendekati rata-rata kunjungan harian sebelum Ramadan, yaitu sekitar 200 orang.
Penurunan
ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Idul fitri.
Banyak pengunjung yang sebelumnya datang untuk membaca atau menghabiskan waktu
sebelum berbuka puasa kini lebih memilih fokus pada persiapan mudik atau
kegiatan ibadah di rumah dan masjid.
Perpustakaan Jusuf Kalla yang terletak di Universitas
Islam Internasional Indonesia, Depok |
"Di awal Ramadan, banyak pengunjung yang datang karena ingin mengisi waktu dengan membaca atau mengerjakan tugas. Namun, mendekati akhir bulan, jumlahnya mulai berkurang drastis," ujar Staff perpustakaan, Ahmad Rasyid
Menurutnya,
mayoritas pengunjung yang biasanya terdiri dari pelajar dan mahasiswa mulai
sibuk dengan persiapan libur Lebaran, sehingga waktu yang mereka habiskan di
perpustakaan berkurang. "Kebanyakan yang datang sekarang adalah pengunjung
setia yang memang rutin membaca di sini," tambahnya.
Salah satu mahasiswa, Laila (22), mengaku lebih jarang datang ke perpustakaan karena mulai disibukkan dengan persiapan pulang kampung.
"Awal Ramadan saya sering ke sini karena suasananya tenang, tapi sekarang saya lebih fokus menyelesaikan tugas sebelum liburan," katanya.
Selain
faktor libur Lebaran, penurunan jumlah pengunjung juga dipengaruhi oleh
meningkatnya kegiatan ibadah di masjid dan pusat keagamaan. Beberapa pengunjung
yang sebelumnya menghabiskan waktu membaca di sore hari kini lebih memilih
untuk menghadiri kajian Ramadan atau melakukan persiapan menjelang Hari Raya.
Meski
mengalami penurunan, pihak pengelola perpustakaan tetap berupaya menarik minat
masyarakat dengan berbagai program literasi yang masih berlangsung hingga akhir
Ramadan. Beberapa kegiatan, seperti diskusi buku, kajian Islami, serta pameran
literatur bertema Ramadan, tetap diadakan untuk mempertahankan antusiasme
pengunjung.
"Kami
memahami bahwa perubahan aktivitas masyarakat selama Ramadan memengaruhi jumlah
kunjungan. Namun, kami berharap kondisi ini hanya bersifat sementara dan
setelah Lebaran jumlah pengunjung akan kembali meningkat," kata Ahmad.
Perpustakaan Jusuf Kalla terus berupaya menciptakan suasana yang nyaman agar masyarakat tetap menjadikannya sebagai tempat belajar dan membaca sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.
Monday, March 17, 2025
Kembalinya Penghargaan Bergengsi Sastra Indonesia, Kusala Sastra Khatulistiwa
Langit sastra Indonesia kembali bersinar dengan kabar kembalinya Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di tanah air. Setelah vakum selama tiga tahun pasca wafatnya sang pendiri, Richard Oh, pada April 2022, ajang ini akhirnya kembali diadakan pada tahun 2025.
Sesi konferensi pers Kusala Sastra Khatulistiwa di
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin
(20/1). Dok: Validnews/ Andesta.
Bukan
tanpa alasan KSK sempat terhenti. Kepergian Richard Oh meninggalkan kekosongan
yang begitu besar dalam dunia sastra. Namun, kecintaan dan dedikasi Richard
terhadap sastra tidak berhenti begitu saja. Pada tahun 2024, Pratiwi Juliani,
istri Richard, bersama adiknya, Linda Oh, mendirikan Yayasan Richard Oh Kusala
Indonesia (YRKI) sebagai bentuk penghormatan dan kelanjutan dari semangat yang
telah dibangun Richard selama bertahun-tahun. Melalui yayasan inilah, Kusala
Sastra Khatulistiwa kembali hadir, membawa harapan baru bagi para sastrawan
Indonesia.
Sejak
pertama kali diselenggarakan pada tahun 2001, Kusala Sastra Khatulistiwa telah
menjadi ajang yang dinantikan oleh para penulis dan pecinta sastra. Setiap
tahunnya, penghargaan ini selalu menghadirkan nama-nama besar dalam dunia
literasi Indonesia. Namun, di tahun 2025, ada sesuatu yang berbeda.
Untuk
pertama kalinya, Kusala Sastra Khatulistiwa menghadirkan tiga kategori
penghargaan, yaitu buku puisi, novel, dan cerpen. Keputusan ini bukan sekadar
perubahan format, tetapi juga upaya untuk memberikan ruang lebih besar bagi
cerpen—sebuah genre yang memiliki peran penting dalam sejarah sastra Indonesia.
"Cerpen memainkan peran penting dalam tradisi sastra kita. Dengan adanya kategori khusus ini, kami ingin memberikan apresiasi lebih besar kepada para penulis cerpen yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan," ujar Pratiwi Juliani dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (22/1/2025).
Tidak
hanya itu, ajang tahun ini juga membawa kabar gembira bagi para penulis. Selain
hadiah utama senilai Rp 75 juta untuk masing-masing kategori, KSK 2025 juga
menghadirkan tambahan hadiah berupa pembelian buku pemenang senilai Rp 25 juta.
Buku-buku ini nantinya akan disebarkan ke sekolah, komunitas, perpustakaan, dan
taman bacaan masyarakat, sehingga semakin banyak pembaca yang dapat menikmati
karya-karya sastra berkualitas.
Dengan
demikian, setiap pemenang akan membawa pulang total hadiah sebesar Rp 100
juta—jumlah yang cukup besar untuk mendukung para penulis dalam berkarya lebih
lanjut.
Bagi
para penulis yang ingin berpartisipasi, ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi. Karya yang dikirimkan harus berupa buku cetak yang diterbitkan
pertama kali pada tahun 2024 dan ditulis dalam bahasa Indonesia.
Setiap kategori memiliki ketentuan tersendiri:
- Cerpen: Minimal dua cerpen dalam satu buku
- Novel: Minimal 30.000 kata
- Puisi: Minimal 40 puisi atau satu puisi panjang dengan total 40 halaman
Peserta
juga diwajibkan mengirimkan dua eksemplar dari setiap judul yang diajukan,
lengkap dengan biodata penulis dan informasi kontak.
Semua
karya yang ingin diikutsertakan harus diterima paling lambat Kamis (20/2/2025)
sesuai cap pos dengan alamat pengiriman ke Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, ED
Cluster No. 2A, Jalan Gunung Indah V, Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang
Selatan, Banten 15445.
Setelah
proses seleksi awal, daftar panjang dan daftar pendek karya terbaik akan
diumumkan. Puncaknya, malam penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 akan
digelar, dengan waktu dan tempat yang akan diinformasikan lebih lanjut.
Dalam
proses seleksi ini, YRKI telah menunjuk tiga kurator berpengalaman, yaitu Nezar
Patria, Eka Kurniawan, dan Hasan Aspahani, untuk memastikan hanya karya-karya
terbaik yang akan meraih penghargaan.
Kembalinya
Kusala Sastra Khatulistiwa membawa semangat baru bagi dunia literasi Indonesia.
Lebih dari sekadar penghargaan, ajang ini adalah bentuk apresiasi yang nyata
bagi para penulis yang terus berkarya.
"Dengan proses seleksi yang ketat, Kusala Sastra Khatulistiwa tidak hanya menghadirkan karya-karya terbaik, tetapi juga memastikan bahwa sastra Indonesia terus relevan dengan perkembangan zaman," tutur Pratiwi Juliani.
Kini,
setelah tiga tahun vakum, Kusala Sastra Khatulistiwa bukan hanya sekadar
kembali—ia hadir dengan wajah baru, dengan harapan baru, dan dengan semangat
yang lebih besar untuk membawa sastra Indonesia ke panggung yang lebih luas.
Bagi
para penulis, inilah saatnya untuk kembali mengangkat pena, merangkai kata, dan
menghadirkan cerita yang menginspirasi. Sebab, sastra adalah tentang bagaimana
kita mengabadikan kehidupan, dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 adalah
panggung untuk mereka yang berani bercerita.
Menimbang Pramoedya Ananta Toer, Mengurai Warisan Pemikiran Sang Maestro Sastra
Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar nama dalam khazanah sastra Indonesia, melainkan sebuah fenomena yang terus diperbincangkan lintas generasi. Demi mengupas lebih dalam pemikiran dan warisannya, Bentara Budaya Bali bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar diskusi bertajuk Menimbang Pramoedya Ananta Toer: BUMI, MANU, BUDI. Acara yang juga didukung oleh Penerbit GPU dan Gramedia ini berlangsung pada Kamis, 25 April 2024, di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.
PRESS RELEASE Menimbang Pramoedya Ananta Toer “BUMI MANU BUDI”Acara
ini merupakan bagian dari rangkaian Bali-Bhuwana Kanti (Global-Bali Arts and
Culture Project Networks) dalam Festival Internasional Bali-Padma Bhuwana IV
yang diselenggarakan oleh ISI Denpasar. Dalam sambutannya, Rektor ISI Denpasar,
Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyoroti bagaimana karya-karya Pramoedya
menawarkan perspektif yang lebih humanis tentang Indonesia.
“Dengan membaca Pramoedya, kita diajarkan melihat Indonesia dari sisi paling insani, bukan hanya heroik. Menghayati karya Pram mengarahkan kita pada penghayatan kehidupan—bukan sekadar hidup untuk hidup itu sendiri, melainkan hidup untuk kehidupan,” ujar Prof. Kun Adnyana.
Diskusi
ini mengangkat buku Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia karya Prof.
Koh Young Hun, yang pertama kali terbit pada 2011 dan kini telah memasuki
cetakan keempat dengan sampul baru. Buku ini menganalisis dunia Pram melalui
tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai. Kritik sosial
yang tajam dalam karya-karya Pram menjadi fokus utama, termasuk bagaimana ia
menggambarkan penindasan, ketidakadilan, serta upayanya melestarikan budaya dan
sejarah Indonesia.
“Karya-karya Pram memiliki benang merah yang jelas, yaitu humanisme. Untuk memahami pemikirannya, seseorang harus membaca karya-karyanya secara menyeluruh dan utuh, bukan hanya dari satu sisi,” jelas Prof. Koh.
Menariknya,
diskusi ini juga mengungkap perjalanan Prof. Koh dalam mengenal Pramoedya sejak
era 1980-an. Sebagai Wakil Ketua Korea Association of Malay-Indonesian Studies
(KAMIS) dan kini Direktur Indonesia Culture Center di Seoul, Prof. Koh telah
lama menaruh perhatian pada sastra Indonesia, khususnya pemikiran Pram.
Tak
hanya itu, Prof. Koh juga menerbitkan buku tentang Pramoedya dalam bahasa
Korea, berjudul Orang Asing yang Tidak Begitu Asing: Kehidupan dan Kesastraan
Pramoedya (낯설지
않은
이방인:
쁘라무디아의
삶과
문학).
Buku ini semakin memperluas jangkauan pemikiran Pram ke ranah internasional,
terutama di Korea Selatan.
Sebagai
pelengkap diskusi, acara ini juga menghadirkan pemutaran dokumenter dan arsip
tentang Pramoedya, yang kemudian ditanggapi secara kritis oleh Prof. Koh.
Dengan demikian, audiens tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga
pengalaman visual mengenai perjalanan intelektual sang maestro.
Sebagaimana
dikatakan A. Teeuw, seorang kritikus sastra ternama, Pramoedya adalah penulis
yang muncul hanya sekali dalam satu generasi atau bahkan satu abad.
Pemikirannya yang dipengaruhi oleh humanisme menegaskan kebebasan manusia dari
belenggu penindasan, baik kolonialisme maupun ketidakadilan sosial.
Dalam
diskusi ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa karya-karya
Pramoedya tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga terus bergema hingga
saat ini. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pemikiran Pram tetap
menjadi rujukan bagi mereka yang mencari keadilan, identitas, dan makna
kehidupan.
Dengan
perbincangan yang kaya dan analisis yang mendalam, diskusi Menimbang Pramoedya
Ananta Toer ini menjadi bukti bahwa warisan intelektual sang sastrawan masih
hidup, mengalir, dan terus memberi inspirasi bagi generasi mendatang.
Tuesday, March 11, 2025
Puisi Chairil Anwar 'Aku' Hiasi Subway Seoul, Sastra Indonesia Mendunia
Jakarta, 9 Maret 2025 – Puisi legendaris "Aku" karya Chairil Anwar kini terpampang di dua stasiun kereta bawah tanah di Seoul, Korea Selatan. Karya sastra Indonesia tersebut dipajang dalam bahasa Indonesia dan Korea di Stasiun Yeouido (Jalur 5) serta Stasiun Gangnam (Jalur 2) sejak 2023. Inisiatif ini merupakan bagian dari Program Puisi Multinasional yang digagas Pemerintah Kota Seoul untuk memperkenalkan sastra dunia kepada masyarakat Korea.
Program ini diselenggarakan oleh Seoul Metro bekerja sama dengan komunitas sastra dan kedutaan besar dari berbagai negara. Puisi Aku, yang ditulis oleh Chairil Anwar pada 1943, dipilih sebagai representasi Indonesia dalam program ini. Terjemahan dalam bahasa Korea turut disertakan, memungkinkan masyarakat setempat memahami makna kuat yang terkandung dalam puisi tersebut.
Puisi
karya Chairil Anwar terpampang di Stasiun Bawah Tanah KRL Seoul, Korsel.
(Tangkapan layar instagram @indonesiainseoul)
Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Gandi Sulistiyanto, mengungkapkan apresiasinya atas penghormatan ini.
“Ini adalah langkah penting dalam memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia. Puisi Chairil Anwar tidak hanya mencerminkan semangat perjuangan, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang,” ujarnya.
Warga Seoul yang melintas di stasiun pun menunjukkan ketertarikan terhadap puisi tersebut. Beberapa pengunjung bahkan mengabadikan puisi Aku dalam foto dan membagikannya di media sosial. Salah satu warga Korea Selatan, Kim Ji-hoon, mengungkapkan kekagumannya terhadap puisi itu.
“Bahasanya sangat kuat dan penuh emosi. Ini pertama kalinya saya membaca puisi dari Indonesia, dan saya sangat terkesan,” katanya.
Pengamat
sastra, Maman S. Mahayana, menilai kehadiran Aku di subway Seoul sebagai
pencapaian bagi sastra Indonesia. “Chairil Anwar adalah ikon sastra yang
karyanya tak lekang oleh waktu. Ini membuktikan bahwa puisi Indonesia memiliki
daya tarik universal,” jelasnya.
Puisi
Aku dikenal sebagai salah satu karya terbesar dalam sejarah sastra Indonesia.
Dengan gaya bahasa yang lugas dan penuh semangat, puisi ini merefleksikan sikap
pemberontakan serta keteguhan seorang individu dalam menghadapi tantangan
hidup. Karya ini telah menginspirasi banyak generasi dan kini semakin mendapat
perhatian di kancah internasional.
Pemasangan
puisi ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan sebagai bagian dari
kampanye literasi global. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga menyatakan harapannya agar lebih banyak
karya sastra Indonesia yang dapat dipromosikan di berbagai negara.
Dengan
hadirnya puisi Chairil Anwar di subway Seoul, sastra Indonesia semakin
mendapatkan tempat di panggung dunia, membuktikan bahwa karya-karya klasik
tetap relevan dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas.
Warisan HB Jassin dalam Studi Sastra Indonesia
Hans Bague Jassin, atau yang lebih dikenal sebagai HB Jassin, merupakan figur sentral dalam perkembangan kritik sastra Indonesia. Sebagai kritikus, editor, dan dokumentator, kontribusinya tidak hanya membentuk lanskap sastra nasional, tetapi juga menyediakan landasan metodologis bagi studi sastra di Indonesia. Keberadaannya sebagai "Paus Sastra Indonesia" bukan sekadar gelar simbolis, melainkan pengakuan atas ketekunannya dalam mengarsipkan, menganalisis, dan mengontekstualisasikan karya-karya sastra Nusantara.
Hingga
kini, warisan intelektualnya tetap lestari, salah satunya melalui Pusat
Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Institusi ini
bukan sekadar perpustakaan, tetapi sebuah pusat riset yang menjadi rujukan
utama dalam kajian sastra Indonesia.
Lahir
pada 31 Juli 1917 di Gorontalo, HB Jassin menunjukkan kecenderungan
intelektualnya sejak dini. Latar belakang akademiknya di Fakultas Sastra
Universitas Indonesia membentuk perspektifnya sebagai seorang kritikus yang
tidak hanya menilai aspek intrinsik sebuah karya, tetapi juga menghubungkannya
dengan dinamika sosial, budaya, dan politik.
Sebagai
editor dan pengarsip, Jassin memiliki visi yang jauh ke depan dalam memahami
peran sastra sebagai representasi zaman. Ia menaruh perhatian besar pada
estetika dan moralitas dalam sastra, yang sering kali membawanya pada
perdebatan panjang dengan sastrawan sezamannya. Gagasannya mengenai kritik
sastra modern mencerminkan pendekatan multidisipliner, di mana sebuah teks
tidak hanya dipahami sebagai karya seni, tetapi juga sebagai artefak sejarah
yang mencerminkan pergeseran ideologi dan estetika suatu bangsa.
HB
Jassin juga memiliki peran besar dalam memperkenalkan dan membangun reputasi
banyak sastrawan Indonesia, termasuk Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan
Taufiq Ismail. Analisisnya terhadap karya-karya mereka tidak hanya menempatkan
sastrawan ini dalam konteks sastra Indonesia, tetapi juga menghubungkan mereka
dengan tren sastra dunia. Ia memahami bahwa sastra bukan hanya soal keindahan
bahasa, tetapi juga cerminan kehidupan, perjuangan, dan pemikiran yang
berkembang dalam masyarakat.
Dedikasinya
dalam mengkaji dan mendokumentasikan karya-karya sastra, baik dari penulis
terkemuka maupun yang kurang dikenal, memperlihatkan etos kerja akademik yang
ketat. Ia tidak sekadar mengumpulkan, tetapi juga memberikan tafsir yang tajam
terhadap berbagai teks sastra, menjadikannya sumber primer bagi banyak peneliti
hingga saat ini.
Sebagai
bentuk penghormatan atas kontribusinya, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
didirikan untuk mengabadikan warisannya. Institusi ini menyimpan koleksi
naskah, manuskrip, korespondensi, dan kritik sastra yang tidak ternilai
harganya.
Bagi
akademisi dan mahasiswa sastra, pusat dokumentasi ini menjadi sumber utama
dalam studi sastra Indonesia. Keberadaannya bukan hanya sebagai repositori
arsip, tetapi juga sebagai ruang diskusi akademik dan eksplorasi intelektual
yang memungkinkan kajian sastra berkembang secara lebih luas dan mendalam.
Namun,
eksistensi institusi ini menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal
pendanaan dan perhatian dari pemerintah. Krisis finansial yang sempat mengancam
keberlangsungannya mengindikasikan lemahnya apresiasi terhadap peran arsip
dalam studi sastra. Meski demikian, dukungan dari komunitas akademik dan pegiat
literasi membantu pusat dokumentasi ini tetap bertahan sebagai institusi
penting dalam khazanah intelektual Indonesia.
Selain
sebagai tempat penelitian, pusat dokumentasi ini juga berperan dalam
mengedukasi generasi muda tentang pentingnya literasi dan apresiasi sastra.
Dengan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi sastra, serta pameran
naskah-naskah bersejarah, institusi ini terus berusaha memperkenalkan kekayaan
sastra Indonesia kepada publik yang lebih luas.
HB
Jassin wafat pada 11 Maret 2000, tetapi pemikiran dan dedikasinya tetap hidup
melalui berbagai karya yang telah ia dokumentasikan dan kritik yang telah ia
bangun. Warisannya tidak hanya terletak pada arsip-arsip yang dikumpulkannya,
tetapi juga dalam paradigma kritik sastra yang ia kembangkan.
Pusat
Dokumentasi Sastra HB Jassin bukan sekadar monumen intelektual, tetapi juga
manifestasi dari keyakinannya bahwa dokumentasi adalah bagian esensial dalam
studi sastra. Bagi mahasiswa dan akademisi, institusi ini menjadi laboratorium
pemikiran yang memungkinkan kajian sastra tidak hanya bersandar pada teks,
tetapi juga pada sejarah dan konteks sosialnya.
Di
era digital saat ini, metode kritik dan dokumentasi yang diperkenalkan HB
Jassin masih relevan, terutama dalam menghadapi tantangan modernisasi dalam
sastra. Keberlanjutan pemikirannya menjadi tugas generasi akademisi berikutnya
agar tradisi kritik sastra Indonesia terus berkembang dan beradaptasi dalam
konteks yang lebih luas.
Lebih dari sekadar kritikus, HB Jassin adalah penjaga memori sastra Indonesia. Tanpa kerja kerasnya dalam mendokumentasikan dan mengkritisi karya-karya sastra, banyak warisan sastra Indonesia mungkin telah hilang dalam pusaran zaman. Oleh karena itu, menghargai karyanya berarti melanjutkan upayanya dalam menjaga, mengkaji, dan mengembangkan dunia sastra Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Peringatan 1 Abad Pramoedya Ananta Toer, Gramedia Cetak Ulang Karya Sang Maestro
Jakarta, 6 Maret 2025 – Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan terbesar Indonesia, Gramedia merilis cetak ulang beberapa karyanya yang telah menjadi warisan sastra nasional pada Rabu (19/2/2025). Sejumlah buku legendaris Pramoedya, termasuk tetralogi Bumi Manusia, kembali hadir di rak-rak toko buku untuk mengenalkan kembali pemikiran serta kritik sosial yang terkandung dalam tulisannya kepada generasi baru.
Cetak ulang ini
mencakup beberapa judul ikonik seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak
Langkah, dan Rumah Kaca. Selain itu, buku lain seperti Gadis Pantai dan Perawan
Remaja dalam Cengkraman Militer juga mendapat edisi terbaru dengan desain
sampul yang lebih modern. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak
pembaca muda yang belum mengenal karya Pramoedya.
Cover
Baru Buku Tetralogi Pulau Buru (Tangkapan Layar Instagram @penerbitkpg)
Kini, sampul dari
empat buku Tetralogi Pulau Buru dicetak dengan sampul yang lebih sederhana dan
mengambil warna biru. Dilihat dari akun Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
disebutkan bukunya dicetak ulang dengan edisi Seabad Pram. "Dengan warna
sampul kesukaan Pramoedya Ananta Toer," tulis @penerbitkpg.
“Pramoedya adalah salah satu penulis paling berpengaruh di Indonesia. Karyanya tidak hanya menyajikan kisah sejarah, tetapi juga refleksi mendalam tentang bangsa ini. Kami ingin memastikan bahwa generasi muda tetap bisa mengakses pemikirannya,” ujar Yuli Pujihardi, perwakilan dari Gramedia, dalam acara peluncuran di Jakarta, Selasa (6/2).
Peringatan satu
abad Pramoedya juga diramaikan dengan berbagai diskusi sastra, pameran buku,
serta pemutaran film yang diadaptasi dari novelnya. Salah satu acara yang
menarik perhatian adalah seminar bertajuk Pramoedya dan Relevansi Karyanya di
Era Digital, yang menghadirkan sastrawan, akademisi, serta para pembaca setia
Pramoedya.
Kritikus sastra
Maman S. Mahayana menilai, cetak ulang ini merupakan langkah positif untuk
menjaga relevansi karya Pramoedya. “Tulisan-tulisan Pram masih sangat aktual.
Ia menulis tentang perjuangan, kemanusiaan, dan keadilan nilai-nilai yang tetap
penting hingga sekarang,” ujarnya.
Pramoedya Ananta
Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Semasa hidupnya, ia
banyak menulis novel, esai, dan artikel yang menyoroti ketimpangan sosial serta
sejarah Indonesia. Akibat kritik tajam dalam karyanya, ia sempat mengalami
pemenjaraan, baik di era kolonial maupun Orde Baru. Meskipun demikian,
tulisan-tulisannya tetap bertahan dan menjadi bacaan wajib bagi mereka yang
ingin memahami perjalanan bangsa ini.
Dengan pencetakan ulang ini, Gramedia berharap agar warisan pemikiran Pramoedya terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang.
“Kami ingin memastikan bahwa suara dan gagasannya tetap bergema, bahkan setelah satu abad kelahirannya,” pungkas Yuli Pujihardi.
Peringatan 1 abad Pramoedya bukan hanya momentum untuk mengenang sang maestro, tetapi juga ajakan untuk kembali menyelami pemikirannya dalam membangun kesadaran sejarah dan identitas bangsa.
Gramedia Hadirkan Makarya, Toko Buku Interaktif di Jakarta
Jakarta, 7 Maret 2025 – Smiljan Makarya, destinasi perpaduan toko buku dan kedai kopi, resmi dibuka di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, pada Selasa (11/2/2025). Inovasi ini hadir sebagai bentuk kolaborasi antara literasi dan gaya hidup modern, memberikan pengalaman baru bagi pengunjung untuk membaca, bekerja, atau sekadar bersantai dengan secangkir kopi.

“Kami berpikir, bagaimana membuat orang kembali tertarik membaca? Akhirnya, kami menciptakan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan dengan ditemani kopi,” ujar Adhis dalam acara peresmian Smiljan Makarya.
Tomi
Wibisono, yang juga pendiri dan CEO Buku Akik, menambahkan bahwa Makarya tidak
sekadar toko buku biasa yang berorientasi pada transaksi. Menurutnya, toko buku
seharusnya menjadi tempat untuk meningkatkan literasi, menambah wawasan, serta
memberikan ketenangan bagi para pengunjungnya.
“Toko buku harus bisa menjadi ruang healing di tengah kehidupan yang semakin cepat,” Pungkas Tomi.
Konsep
ini mendapat dukungan penuh dari Rahmat, pemilik Smiljan Coffee, yang sudah
lama berkecimpung di industri kopi. Sejak membuka cabang pertama di Bintaro 2,5
tahun lalu, ia memang bercita-cita menghadirkan kedai kopi yang juga menawarkan
ruang baca.
Dengan berdirinya cabang kelima Smiljan di Gramedia Matraman yang berkolaborasi dengan Makarya, Rahmat berharap semakin banyak orang tertarik untuk membaca.
“Kami ingin memberikan pengalaman multisensori, di mana kopi dan suasana ruang baca yang nyaman bisa menciptakan pengalaman unik bagi para pengunjung,” ujarnya.
Seluas
250 meter persegi, Makarya hadir dengan berbagai kurasi buku yang ditampilkan.
Ada kurasi bertemakan setiap penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Iksaka
Banu, Dee Lestari, Henry Manampiring, Leila S Chudori, Eka Kurniawan, rak
bagian English Edition, sampai Buku Juara yang menampilkan buku-buku
yang menang penghargaan.
Smiljan
Makarya beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 di Lantai 1
Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Bagi yang ingin menikmati suasana baru dalam
membaca sambil menikmati kopi, tempat ini bisa menjadi pilihan menarik.
Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah
Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...
-
Tan Malaka adalah salah satu tokoh revolusi Indonesia yang namanya sering terlupakan dalam sejarah resmi. Ia dikenal sebagai pemikir, peju...
-
Era Orde Baru adalah salah satu periode yang penuh dengan dinamika politik, sosial, dan budaya di Indonesia. Dengan panjangnya waktu yang me...
-
Hans Bague Jassin, atau yang lebih dikenal sebagai HB Jassin, merupakan figur sentral dalam perkembangan kritik sastra Indonesia. Sebagai kr...









