Tuesday, March 25, 2025

Waitatiri, Karya yang Menjadi Bahan Ajar di Harvard University

Waitatiri, alumni Universitas Indonesia (UI) yang kini menempuh pendidikan di Harvard University berkat beasiswa LPDP, baru-baru ini mencuri perhatian publik. Buku karya Wai, panggilan akrabnya, yang mengangkat isu bullying pada anak-anak, kini dijadikan bahan ajar di salah satu universitas terkemuka di dunia tersebut. Keberhasilan ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Wai, tetapi juga bagi Indonesia sebagai negara asalnya.


Buku yang berjudul The Missing Colors ini merupakan buku bergambar yang menceritakan perjalanan seorang anak yang menjadi korban bullying di sekolah, kemudian bangkit kembali. Dalam buku ini, Wai menggunakan perumpamaan warna-warna untuk menggambarkan emosi yang dirasakan oleh penyintas bullying. Metode ini dipilih Wai agar anak-anak yang membaca buku tersebut dapat lebih mudah memahami perasaan yang sering kali sulit diungkapkan, seperti perasaan cemas, kesedihan, dan kebingungannya. Konsep warna sebagai perasaan ini bertujuan untuk memberikan cara yang lebih visual dan mudah dipahami bagi anak-anak yang mungkin belum cukup mampu untuk menyampaikan emosi mereka dengan kata-kata.

Wai menuturkan bahwa penulisan buku ini didasari oleh keprihatinannya terhadap fenomena bullying yang masih marak terjadi di sekolah-sekolah. “Saya ingin anak-anak tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan ada cara untuk bangkit setelah menghadapi masa sulit. Saya berharap buku ini bisa membantu mereka untuk mengenali dan mengatasi emosi yang mereka rasakan,” ujar Wai saat ditemui dalam sebuah wawancara.

Saat ini, buku The Missing Colors telah menjadi bahan ajar di beberapa kelas di Harvard University, khususnya dalam mata kuliah yang membahas tentang psikologi anak dan pendidikan. Hal ini menjadi sebuah pencapaian luar biasa bagi Wai, karena bukunya dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengajarkan mahasiswa mengenai pentingnya empati dan pemahaman terhadap isu-isu sosial seperti bullying. Dengan diterimanya buku ini sebagai bahan ajar di lingkungan akademik internasional, Wai berharap semakin banyak orang yang peduli dengan isu bullying dan memberikan perhatian lebih terhadap dampak negatif yang ditimbulkan, terutama pada anak-anak.

Waitatiri yang sebelumnya menempuh pendidikan di jurusan Sastra Jerman UI, melanjutkan studi di Harvard University di jurusan Learning Design, Information and Technology berkat beasiswa LPDP. Perjalanan akademiknya yang luar biasa menunjukkan bahwa Wai memiliki komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan dan pengembangan diri. Selain menulis buku, Wai juga memiliki pengalaman profesional sebagai copywriter dan creative marketing, serta memiliki semangat tinggi dalam dunia edukasi. Hal ini terbukti dari inisiatifnya dalam program PonselUntukSekolah pada tahun 2020, yang bertujuan untuk menyediakan smartphone dan paket internet bagi anak-anak yang membutuhkan, guna mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Program PonselUntukSekolah yang digagas Wai pada masa pandemi Covid-19 ini menjadi solusi nyata bagi banyak anak-anak yang kesulitan mengikuti pembelajaran online karena keterbatasan akses teknologi. Program ini berhasil menyalurkan 20 smartphone lengkap dengan paket internet untuk digunakan oleh anak-anak dan orang tua yang membutuhkan. Inisiatif sosial Wai ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan memberikan dampak langsung bagi pendidikan anak-anak yang terdampak oleh pandemi. Program tersebut juga menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli dengan kebutuhan pendidikan anak-anak yang kurang mampu.

Buku The Missing Colors dan program sosial Wai adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat berperan dalam menciptakan perubahan sosial melalui pendidikan dan karya-karya yang bermakna. Tidak hanya mengedukasi tentang pentingnya empati dan solidaritas terhadap sesama, Wai juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif berkontribusi dalam mengatasi masalah sosial yang ada di sekitar mereka.

Selain itu, dengan pengakuan dunia internasional atas karyanya, Waitatiri menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda Indonesia. Wai menunjukkan bahwa karya sederhana yang berfokus pada isu sosial dapat memiliki dampak yang luas, bahkan di tingkat global. Keberhasilannya menginspirasi banyak orang, khususnya anak muda Indonesia, untuk berani mengungkapkan pandangan dan karya mereka serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Sebagai alumni UI yang kini berkuliah di Harvard, Wai membuktikan bahwa dengan semangat belajar, kepedulian sosial, dan dedikasi, seseorang dapat meraih prestasi yang luar biasa dan memberi dampak besar bagi dunia.

Ke depan, Wai berencana untuk terus mengembangkan ide-ide inovatif dalam dunia pendidikan, dengan harapan bisa memberikan kontribusi lebih besar dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua anak. Buku The Missing Colors hanyalah awal dari perjalanan panjangnya dalam mengangkat isu-isu sosial dan menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Dengan semangat yang terus menyala, Wai bertekad untuk terus belajar, berkarya, dan menginspirasi.

Merenung Lewat Sastra: Rekomendasi Buku Fiksi Bertema Orde Baru untuk Menyusuri Sejarah Indonesia


Era Orde Baru adalah salah satu periode yang penuh dengan dinamika politik, sosial, dan budaya di Indonesia. Dengan panjangnya waktu yang mencakup lebih dari tiga dekade, banyak peristiwa besar yang membentuk wajah negara ini. Bagi banyak penulis, masa Orde Baru menjadi tema yang sarat dengan refleksi dan kritik sosial yang mendalam, yang bisa dirasakan melalui karya-karya sastra. Jika Anda tertarik mengeksplorasi sisi lain dari sejarah Indonesia pada masa tersebut, berikut adalah beberapa buku fiksi yang dapat membantu membuka pemahaman tentang Orde Baru, sekaligus memberikan pengalaman membaca yang menarik dan menyentuh.

Tetralogi Buru - Pramoedya Ananta Toer

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu karya sastra terbesar yang berkaitan dengan masa Orde Baru adalah Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi ini terdiri dari empat buku: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Meskipun karya ini pertama kali ditulis pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, keberaniannya dalam menyuarakan kritik terhadap penguasa Orde Baru membuat karya ini tetap relevan hingga kini.
Cerita dalam Tetralogi Buru berfokus pada Minke, seorang pemuda pribumi yang berjuang melawan ketidakadilan kolonialisme Belanda serta mempertanyakan otoritas politik di masa penjajahan. Meskipun latar belakang cerita adalah masa kolonial, banyak tema yang juga mencerminkan kehidupan politik dan sosial di Indonesia pada masa Orde Baru. Kritik terhadap otoritarianisme, perbedaan kelas sosial, dan ketidakadilan yang ada dalam masyarakat menjadi cermin nyata yang mencerminkan kondisi Indonesia pada masa itu.

Pulang - Leila S. Chudori

Buku Pulang karya Leila S. Chudori mengangkat tema pengasingan politik yang dialami oleh banyak tokoh Indonesia pada masa Orde Baru. Dalam novel ini, Leila menggambarkan kehidupan para eksil yang terpaksa meninggalkan Indonesia akibat peristiwa 1965 dan situasi politik yang memanas. Tokoh utama, Sirkus, harus menjalani kehidupan di Paris setelah pelarian dari Jakarta, sementara di Indonesia terjadi perubahan besar dalam politik dan masyarakat.
Pulang tidak hanya bercerita tentang pengasingan, tetapi juga tentang identitas dan perasaan rindu terhadap tanah air. Chudori dengan elegan menggambarkan bagaimana Orde Baru mengubah kehidupan banyak orang, terutama mereka yang memiliki pandangan politik yang berbeda dengan rezim saat itu. Buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan dampak dari otoritarianisme terhadap kehidupan individu, baik yang berada di dalam negeri maupun yang terpaksa meninggalkan tanah air.

Laut Bercerita - Leila S. Chudori

Selain Pulang, Leila S. Chudori juga menulis karya lain yang menyentuh tentang kehidupan pada masa Orde Baru, yaitu Laut Bercerita. Novel ini menyajikan kisah tentang seorang wanita bernama Samara yang kembali ke tanah kelahirannya setelah lama berada di luar negeri. Di balik perjalanan Samara yang tampaknya sederhana, terungkaplah kisah-kisah penuh penderitaan, kehilangan, dan kenangan akan masa-masa yang gelap di bawah rezim Orde Baru.
Dalam Laut Bercerita, Chudori menyelami kedalaman psikologis tokoh-tokohnya, serta menggambarkan bagaimana trauma akibat peristiwa-peristiwa besar, seperti pembantaian tahun 1965, terus membekas dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui novel ini, pembaca dapat merasakan betapa kuatnya dampak masa lalu terhadap kehidupan orang-orang yang terlibat dalam sejarah kelam tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Amba - Laksmi Pamuntjak

Buku Amba karya Laksmi Pamuntjak juga merupakan karya sastra yang menyoroti peristiwa sejarah Indonesia yang berhubungan dengan masa Orde Baru, khususnya tragedi 1965. Novel ini menggambarkan kisah cinta antara Amba dan Sjaif, yang terpisah oleh berbagai peristiwa besar yang terjadi di tanah air. Dalam cerita ini, Laksmi Pamuntjak dengan cermat menggambarkan bagaimana kekejaman politik Orde Baru menghancurkan kehidupan banyak orang, terutama mereka yang terlibat dalam Gerakan 30 September (G30S).
Melalui kisah Amba dan Sjaif, Pamuntjak mengajak pembaca untuk menyelami penderitaan yang dialami oleh mereka yang menjadi korban dari politik balas dendam Orde Baru. Selain itu, Amba juga menyoroti bagaimana sebuah cinta bisa bertahan meskipun terhalang oleh waktu dan kekerasan sejarah.

Saksi - Agus Noor

Lautan Bercerita dan Amba lebih banyak berkisar pada tokoh-tokoh yang mengalami dampak sosial-politik masa Orde Baru di luar negeri, sementara Saksi karya Agus Noor memberikan perspektif berbeda tentang mereka yang berada di dalam negeri, khususnya para korban yang terlibat dalam berbagai kekerasan politik. Dalam Saksi, Noor menggambarkan sosok seorang pria yang harus menyaksikan kehancuran hidupnya akibat keterlibatannya dalam sebuah tragedi sejarah yang terjadi di bawah pemerintahan Orde Baru.
Melalui novel ini, Noor mengajak pembaca untuk merenung tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sejarah, serta bagaimana mereka yang dianggap "pembangkang" atau "musuh negara" pada masa tersebut seringkali menjadi korban kebijakan yang tidak adil.

Buku-buku yang mengangkat tema Orde Baru, seperti Tetralogi Buru, Pulang, Laut Bercerita, Amba, dan Saksi, bukan hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga memberi wawasan tentang bagaimana sejarah Indonesia terjalin dengan kehidupan sosial dan pribadi masyarakat. Karya-karya ini membuka ruang untuk merenung tentang apa yang telah terjadi pada masa Orde Baru, serta bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut membentuk identitas bangsa hingga saat ini. Bagi Anda yang ingin lebih mendalami dinamika sosial-politik masa lalu Indonesia, karya-karya ini bisa menjadi pintu untuk memahami dan merenungkan sejarah melalui lensa sastra yang penuh makna.

Peluncuran Buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah Sebagai Sarana Edukasi Masyarakat

Jakarta, 23 Maret 2025 – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Eddy Hartono, S.I.K., M.H., mengapresiasi peluncuran buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah karya Dr. Noor Huda Ismail. Buku ini dinilai sebagai narasi alternatif yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme serta mencegah penyebarannya di Indonesia.

Sampul Buku Anak Negeri Di Pusaran Konflik Suriah

"Buku ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, baik anak di bawah umur maupun orang dewasa, agar memahami bahaya paham radikal terorisme. Dengan meningkatnya literasi masyarakat, diharapkan penyebaran ideologi ekstremisme dapat diminimalisir," ujar 
Eddy Hartono saat menghadiri peluncuran buku dan pemutaran film Road to Resilience di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (27/2).

Ia menambahkan bahwa buku tersebut tidak hanya mengandung informasi mengenai radikalisme, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman ekstremisme berbasis kekerasan. Menurutnya, narasi alternatif seperti yang disajikan dalam buku ini sangat diperlukan untuk melawan propaganda kelompok radikal yang sering menyasar generasi muda melalui media sosial dan platform digital.

Penulis buku, Dr. Noor Huda Ismail, menjelaskan bahwa buku Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah dan film Road to Resilience dirancang sebagai alat komunikasi strategis dalam upaya pencegahan ekstremisme. Keduanya diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung keberlanjutan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) 2025–2029.

"Dalam implementasi RAN PE, BNPT bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah. Saya sendiri diminta untuk merancang strategi komunikasi dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, salah satunya melalui transmedia storytelling seperti film dan buku," jelas Noor Huda.

Ia menambahkan bahwa buku ini memberikan gambaran tentang latar belakang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terafiliasi dengan konflik di Suriah, baik yang bergabung secara sukarela maupun mereka yang terjebak dalam pusaran konflik. Dengan memahami faktor-faktor yang mendorong individu untuk terlibat dalam jaringan terorisme, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda radikal.

Lebih lanjut, Noor Huda menekankan bahwa pendekatan transmedia storytelling menjadi strategi efektif dalam menyampaikan pesan-pesan deradikalisasi. Menurutnya, media visual seperti film dapat menjangkau lebih banyak audiens, terutama generasi muda yang lebih aktif mengakses informasi melalui media digital.

Peluncuran buku dan film ini mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai bentuk upaya memperkuat narasi perdamaian dan mencegah penyebaran ideologi ekstremisme di Indonesia. Dengan semakin banyaknya literatur dan media yang mengedukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme, diharapkan upaya deradikalisasi dan pencegahan terorisme dapat berjalan lebih efektif.

Sastra Bulan Purnama Edisi ke-162 Meriahkan Ramadan di Museum Sandi Yogyakarta

Jakarta, 20 Maret – Komunitas sastra bulanan “Sastra Bulan Purnama” kembali menggelar edisi ke-162 pada Sabtu, 15 Maret 2025, pukul 15.30 WIB, bertempat di Museum Sandi, Jalan Faridan M Noto No. 21, Kotabaru, Yogyakarta. Acara ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, dengan menghadirkan pertunjukan pembacaan puisi, penampilan musik puisi, dan buka puasa bersama.

Penampilan mantan Bupati Bantul Sri Surya Widati dalam Sastra Bulan Purnama edisi ke-162 (foto: Deny Hermawan)

Empat penyair tampil sebagai pembaca puisi utama, yakni Cahnaning Dewajati, dosen Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); Dedet Setiadi, penyair sekaligus pelaku usaha bahan bangunan; Syam Chandra, pengusaha kuliner mie ayam; dan Umi Kulsum, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bantul. Keempatnya telah lama dikenal aktif menulis puisi dan memiliki sejumlah karya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.

Selain dibacakan langsung oleh para penyairnya, karya-karya mereka juga ditampilkan oleh sejumlah tokoh lintas profesi, antara lain Agus Suprihono (penulis sastra Jawa), Anes Prabu (penyair muda dan aktor teater), Deni Angga, Meuz Prazt (perupa), Nunung Rieta (pemain teater), Ratih Alsaira (perupa), Sri Surya Widati (Bupati Bantul 2010–2015), Tosa Santosa (organizer fashion show), dan Wahjudi Djaya (dosen dan penulis).

Doni Onfire, musisi biola yang dikenal kerap hadir di Sastra Bulan Purnama, turut memeriahkan panggung dengan menggubah puisi karya Dedet Setiadi dan Umi Kulsum menjadi lagu. “Penampilan kali ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjadi momen silaturahmi dengan teman-teman lama,” ujar Doni.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan bahwa keempat penyair tetap konsisten menulis meskipun sebagian telah memasuki usia 50 hingga 60 tahun. “Menulis puisi bukan untuk mencari uang. Kalau sesekali dapat honor, itu hanya bonus. Yang utama, menulis puisi adalah cara mereka membahagiakan diri sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Dedet Setiadi, salah satu penyair yang tampil, mengaku meski secara administratif tinggal di Ngluwar, Magelang, ia lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta. “Saya lebih banyak berinteraksi di Yogya. Saya merasa menjadi bagian dari komunitas sastra di sini,” ucapnya.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama para peserta dan tamu undangan. Kegiatan ini membuktikan bahwa sastra tetap hidup dan menjadi ruang ekspresi yang relevan di tengah masyarakat, bahkan dalam suasana Ramadan.

Tuesday, March 18, 2025

Tan Malaka: Pejuang Revolusi yang Terlupakan, Pemikirannya Tetap Abadi

 

Tan Malaka adalah salah satu tokoh revolusi Indonesia yang namanya sering terlupakan dalam sejarah resmi. Ia dikenal sebagai pemikir, pejuang kemerdekaan, dan aktivis politik yang memiliki gagasan revolusioner tentang sosialisme dan kemerdekaan Indonesia. Perannya dalam perjuangan kemerdekaan sangat besar, tetapi ia kerap dianggap sebagai sosok kontroversial karena pemikirannya yang berbeda dengan para pemimpin nasional lainnya. 

Meskipun banyak jasanya dalam memperjuangkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat, Tan Malaka mengalami berbagai tekanan politik, bahkan hingga akhir hayatnya. Ironisnya, tokoh yang gigih memperjuangkan kemerdekaan ini justru dieksekusi oleh bangsanya sendiri. Bagaimana perjalanan hidup Tan Malaka hingga akhirnya ia menjadi salah satu sosok yang dilupakan dalam sejarah? 

Tan Malaka lahir dengan nama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandan Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga Minangkabau yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Sejak kecil, Tan Malaka dikenal sebagai anak yang cerdas dan berjiwa kritis. Kemampuannya dalam berpikir logis dan rasional membawanya mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Rijkskweekschool, Belanda, pada tahun 1913. 

Selama di Belanda, Tan Malaka mulai mengenal gagasan sosialisme dan marxisme yang saat itu berkembang pesat di Eropa. Ia banyak membaca literatur politik dan filsafat, yang akhirnya membentuk pemikirannya tentang perjuangan rakyat tertindas, termasuk rakyat Indonesia yang saat itu masih berada di bawah penjajahan Belanda. 

Sekembalinya ke Indonesia, Tan Malaka aktif dalam pergerakan nasional. Ia menjadi seorang pengajar dan mulai menyebarkan pemikirannya kepada murid-muridnya. Namun, karena pandangan politiknya yang radikal dan dianggap membahayakan kolonialisme Belanda, ia mulai diawasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya, ia harus hidup dalam pengasingan selama bertahun-tahun di berbagai negara, termasuk Filipina, China, dan Uni Soviet. 

Selama dalam pengasingan, Tan Malaka tetap aktif menulis dan menyebarkan ide-idenya. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), sebuah buku yang menekankan pentingnya berpikir rasional dan ilmiah dalam perjuangan bangsa. Ia mengkritik pola pikir yang masih bergantung pada mitos dan takhayul, yang menurutnya dapat menghambat kemajuan masyarakat Indonesia. 

Tan Malaka juga memperkenalkan konsep revolusi total, di mana kemerdekaan harus diperjuangkan dengan cara yang lebih tegas, bahkan dengan perlawanan bersenjata jika diperlukan. Berbeda dengan kelompok nasionalis lain yang lebih memilih jalur diplomasi, Tan Malaka percaya bahwa Indonesia hanya bisa benar-benar merdeka melalui perjuangan rakyat secara langsung. 

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Tan Malaka melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat perjuangan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945, ia kembali ke Indonesia dan berusaha membangun gerakan revolusioner untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya Belanda. 

Tan Malaka mendirikan Partai Murba sebagai wadah perjuangan politiknya, tetapi pemikirannya yang keras dan berbeda dengan arus utama politik saat itu membuatnya memiliki banyak musuh. Ia tidak hanya berhadapan dengan Belanda, tetapi juga dengan sesama pejuang kemerdekaan yang lebih memilih jalur diplomasi. 

Pada 1948, situasi politik Indonesia semakin memanas dengan adanya perpecahan antara kelompok nasionalis, komunis, dan militer. Tan Malaka, yang memiliki pandangan sendiri mengenai revolusi, akhirnya dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah. Pada 21 Februari 1949, ia ditangkap dan dieksekusi di Kediri oleh tentara Divisi Brawijaya tanpa pengadilan yang jelas. 

Meskipun Tan Malaka sempat dihapus dari catatan resmi sejarah Indonesia, gagasannya tetap hidup dan terus menjadi inspirasi bagi banyak generasi. Pemikiran kritisnya mengenai perjuangan rakyat, pentingnya pendidikan, serta konsep revolusi masih relevan hingga saat ini. 

Pada 1963, Presiden Soekarno akhirnya mengakui Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional. Namun, meskipun telah mendapatkan gelar tersebut, peran dan kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan masih belum sepenuhnya mendapatkan tempat yang layak dalam narasi sejarah nasional. 

Tan Malaka adalah sosok revolusioner yang ide-idenya melampaui zamannya. Ia tidak hanya berjuang melawan kolonialisme, tetapi juga melawan pola pikir yang menghambat kemajuan bangsa. Meskipun namanya sempat dilupakan, warisan pemikirannya tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang. 

Kisah Tan Malaka adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berjuang di garis depan, tetapi juga oleh mereka yang menolak tunduk pada kompromi. Mengingat dan mempelajari kembali perjuangannya adalah langkah penting dalam memahami lebih dalam sejarah serta jati diri bangsa Indonesia.


Minat Baca Rendah, Upaya Peningkatan Literasi Terus Dilakukan

Jakarta, 15 Maret 2025 – Minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah berdasarkan data UNESCO, yang mencatat indeks minat baca hanya sebesar 0,001%. Ini berarti hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca tinggi. Selain itu, survei Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 menempatkan Indonesia di peringkat ke-62 dari 70 negara dalam hal kemampuan literasi.

Bazar buku murah yang diselenggarakan oleh Jakpro


Meskipun demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan literasi, khususnya di kalangan generasi muda. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah mengadakan program Pemberdayaan Komunitas Literasi di berbagai provinsi, termasuk DKI Jakarta. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat. Selain itu, berbagai kegiatan seperti lokakarya literasi, bedah buku, serta diskusi terbuka semakin digencarkan untuk menarik minat baca masyarakat.

Selain itu, pemerintah mengalokasikan dana bantuan untuk 340 komunitas penggerak literasi di Indonesia. Setiap komunitas terpilih menerima bantuan senilai Rp50 juta guna memperkuat program literasi mereka. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat baca, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Beberapa komunitas literasi juga menggandeng pegiat media sosial untuk mempromosikan pentingnya membaca melalui konten-konten kreatif yang lebih menarik bagi anak muda.

Kendati data menunjukkan bahwa minat baca masih rendah, adanya peningkatan jumlah komunitas literasi dan berbagai program pemerintah yang mendukung literasi menunjukkan adanya tren perbaikan. Namun, data spesifik mengenai peningkatan minat terhadap sastra di kalangan generasi muda masih perlu diteliti lebih lanjut. Sebagian pengamat literasi menilai bahwa faktor utama yang menghambat perkembangan literasi adalah kurangnya akses terhadap buku berkualitas dan rendahnya kebiasaan membaca sejak usia dini.

Dengan adanya berbagai upaya ini, diharapkan minat baca dan literasi masyarakat Indonesia dapat meningkat, sehingga membentuk generasi yang lebih kritis dan berwawasan luas. Selain itu, keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua, sekolah, dan komunitas literasi, menjadi kunci utama dalam membangun budaya membaca yang lebih kuat di masa depan.


Lonjakan Pengunjung Perpustakaan Jusuf Kalla Saat Ramadan Mulai Menurun

Jakarta, 18 Maret 2025 – Antusiasme masyarakat mengunjungi Perpustakaan Jusuf Kalla yang sempat meningkat selama awal Ramadan kini mulai menurun. Jika sebelumnya jumlah pengunjung mencapai 350-500 orang per hari, kini angka tersebut perlahan turun mendekati rata-rata kunjungan harian sebelum Ramadan, yaitu sekitar 200 orang.

Penurunan ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Idul fitri. Banyak pengunjung yang sebelumnya datang untuk membaca atau menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa kini lebih memilih fokus pada persiapan mudik atau kegiatan ibadah di rumah dan masjid.

Perpustakaan Jusuf Kalla yang terletak di Universitas Islam Internasional Indonesia, Depok


"Di awal Ramadan, banyak pengunjung yang datang karena ingin mengisi waktu dengan membaca atau mengerjakan tugas. Namun, mendekati akhir bulan, jumlahnya mulai berkurang drastis," ujar Staff perpustakaan, Ahmad Rasyid

Menurutnya, mayoritas pengunjung yang biasanya terdiri dari pelajar dan mahasiswa mulai sibuk dengan persiapan libur Lebaran, sehingga waktu yang mereka habiskan di perpustakaan berkurang. "Kebanyakan yang datang sekarang adalah pengunjung setia yang memang rutin membaca di sini," tambahnya.

Salah satu mahasiswa, Laila (22), mengaku lebih jarang datang ke perpustakaan karena mulai disibukkan dengan persiapan pulang kampung. 

"Awal Ramadan saya sering ke sini karena suasananya tenang, tapi sekarang saya lebih fokus menyelesaikan tugas sebelum liburan," katanya.

Selain faktor libur Lebaran, penurunan jumlah pengunjung juga dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan ibadah di masjid dan pusat keagamaan. Beberapa pengunjung yang sebelumnya menghabiskan waktu membaca di sore hari kini lebih memilih untuk menghadiri kajian Ramadan atau melakukan persiapan menjelang Hari Raya.

Meski mengalami penurunan, pihak pengelola perpustakaan tetap berupaya menarik minat masyarakat dengan berbagai program literasi yang masih berlangsung hingga akhir Ramadan. Beberapa kegiatan, seperti diskusi buku, kajian Islami, serta pameran literatur bertema Ramadan, tetap diadakan untuk mempertahankan antusiasme pengunjung.

"Kami memahami bahwa perubahan aktivitas masyarakat selama Ramadan memengaruhi jumlah kunjungan. Namun, kami berharap kondisi ini hanya bersifat sementara dan setelah Lebaran jumlah pengunjung akan kembali meningkat," kata Ahmad.

Perpustakaan Jusuf Kalla terus berupaya menciptakan suasana yang nyaman agar masyarakat tetap menjadikannya sebagai tempat belajar dan membaca sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.


Monday, March 17, 2025

Kembalinya Penghargaan Bergengsi Sastra Indonesia, Kusala Sastra Khatulistiwa

Langit sastra Indonesia kembali bersinar dengan kabar kembalinya Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di tanah air. Setelah vakum selama tiga tahun pasca wafatnya sang pendiri, Richard Oh, pada April 2022, ajang ini akhirnya kembali diadakan pada tahun 2025.

Sesi konferensi pers Kusala Sastra Khatulistiwa di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (20/1). Dok: Validnews/ Andesta.

Bukan tanpa alasan KSK sempat terhenti. Kepergian Richard Oh meninggalkan kekosongan yang begitu besar dalam dunia sastra. Namun, kecintaan dan dedikasi Richard terhadap sastra tidak berhenti begitu saja. Pada tahun 2024, Pratiwi Juliani, istri Richard, bersama adiknya, Linda Oh, mendirikan Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) sebagai bentuk penghormatan dan kelanjutan dari semangat yang telah dibangun Richard selama bertahun-tahun. Melalui yayasan inilah, Kusala Sastra Khatulistiwa kembali hadir, membawa harapan baru bagi para sastrawan Indonesia.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2001, Kusala Sastra Khatulistiwa telah menjadi ajang yang dinantikan oleh para penulis dan pecinta sastra. Setiap tahunnya, penghargaan ini selalu menghadirkan nama-nama besar dalam dunia literasi Indonesia. Namun, di tahun 2025, ada sesuatu yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, Kusala Sastra Khatulistiwa menghadirkan tiga kategori penghargaan, yaitu buku puisi, novel, dan cerpen. Keputusan ini bukan sekadar perubahan format, tetapi juga upaya untuk memberikan ruang lebih besar bagi cerpen—sebuah genre yang memiliki peran penting dalam sejarah sastra Indonesia.

"Cerpen memainkan peran penting dalam tradisi sastra kita. Dengan adanya kategori khusus ini, kami ingin memberikan apresiasi lebih besar kepada para penulis cerpen yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan," ujar Pratiwi Juliani dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (22/1/2025).

Tidak hanya itu, ajang tahun ini juga membawa kabar gembira bagi para penulis. Selain hadiah utama senilai Rp 75 juta untuk masing-masing kategori, KSK 2025 juga menghadirkan tambahan hadiah berupa pembelian buku pemenang senilai Rp 25 juta. Buku-buku ini nantinya akan disebarkan ke sekolah, komunitas, perpustakaan, dan taman bacaan masyarakat, sehingga semakin banyak pembaca yang dapat menikmati karya-karya sastra berkualitas.

Dengan demikian, setiap pemenang akan membawa pulang total hadiah sebesar Rp 100 juta—jumlah yang cukup besar untuk mendukung para penulis dalam berkarya lebih lanjut.

Bagi para penulis yang ingin berpartisipasi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Karya yang dikirimkan harus berupa buku cetak yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2024 dan ditulis dalam bahasa Indonesia.

Setiap kategori memiliki ketentuan tersendiri:

  • Cerpen: Minimal dua cerpen dalam satu buku
  • Novel: Minimal 30.000 kata
  • Puisi: Minimal 40 puisi atau satu puisi panjang dengan total 40 halaman

Peserta juga diwajibkan mengirimkan dua eksemplar dari setiap judul yang diajukan, lengkap dengan biodata penulis dan informasi kontak.

Semua karya yang ingin diikutsertakan harus diterima paling lambat Kamis (20/2/2025) sesuai cap pos dengan alamat pengiriman ke Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, ED Cluster No. 2A, Jalan Gunung Indah V, Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15445.

Setelah proses seleksi awal, daftar panjang dan daftar pendek karya terbaik akan diumumkan. Puncaknya, malam penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 akan digelar, dengan waktu dan tempat yang akan diinformasikan lebih lanjut.

Dalam proses seleksi ini, YRKI telah menunjuk tiga kurator berpengalaman, yaitu Nezar Patria, Eka Kurniawan, dan Hasan Aspahani, untuk memastikan hanya karya-karya terbaik yang akan meraih penghargaan.

Kembalinya Kusala Sastra Khatulistiwa membawa semangat baru bagi dunia literasi Indonesia. Lebih dari sekadar penghargaan, ajang ini adalah bentuk apresiasi yang nyata bagi para penulis yang terus berkarya.

"Dengan proses seleksi yang ketat, Kusala Sastra Khatulistiwa tidak hanya menghadirkan karya-karya terbaik, tetapi juga memastikan bahwa sastra Indonesia terus relevan dengan perkembangan zaman," tutur Pratiwi Juliani.

Kini, setelah tiga tahun vakum, Kusala Sastra Khatulistiwa bukan hanya sekadar kembali—ia hadir dengan wajah baru, dengan harapan baru, dan dengan semangat yang lebih besar untuk membawa sastra Indonesia ke panggung yang lebih luas.

Bagi para penulis, inilah saatnya untuk kembali mengangkat pena, merangkai kata, dan menghadirkan cerita yang menginspirasi. Sebab, sastra adalah tentang bagaimana kita mengabadikan kehidupan, dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 adalah panggung untuk mereka yang berani bercerita.


Menimbang Pramoedya Ananta Toer, Mengurai Warisan Pemikiran Sang Maestro Sastra

Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar nama dalam khazanah sastra Indonesia, melainkan sebuah fenomena yang terus diperbincangkan lintas generasi. Demi mengupas lebih dalam pemikiran dan warisannya, Bentara Budaya Bali bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar diskusi bertajuk Menimbang Pramoedya Ananta Toer: BUMI, MANU, BUDI. Acara yang juga didukung oleh Penerbit GPU dan Gramedia ini berlangsung pada Kamis, 25 April 2024, di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar.

PRESS RELEASE Menimbang Pramoedya Ananta Toer “BUMI MANU BUDI” 

Diskusi ini menghadirkan Prof. Koh Young Hun, seorang akademisi dan peneliti sastra Indonesia dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea Selatan. Dengan pengalaman luas dalam kajian Pramoedya, Prof. Koh memberikan perspektif mendalam terhadap karya-karya sastrawan besar ini. Perbincangan dipandu oleh Galuh Praba, seorang news anchor yang juga lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Bali-Bhuwana Kanti (Global-Bali Arts and Culture Project Networks) dalam Festival Internasional Bali-Padma Bhuwana IV yang diselenggarakan oleh ISI Denpasar. Dalam sambutannya, Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, menyoroti bagaimana karya-karya Pramoedya menawarkan perspektif yang lebih humanis tentang Indonesia.

“Dengan membaca Pramoedya, kita diajarkan melihat Indonesia dari sisi paling insani, bukan hanya heroik. Menghayati karya Pram mengarahkan kita pada penghayatan kehidupan—bukan sekadar hidup untuk hidup itu sendiri, melainkan hidup untuk kehidupan,” ujar Prof. Kun Adnyana.

Diskusi ini mengangkat buku Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia karya Prof. Koh Young Hun, yang pertama kali terbit pada 2011 dan kini telah memasuki cetakan keempat dengan sampul baru. Buku ini menganalisis dunia Pram melalui tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes, dan Gadis Pantai. Kritik sosial yang tajam dalam karya-karya Pram menjadi fokus utama, termasuk bagaimana ia menggambarkan penindasan, ketidakadilan, serta upayanya melestarikan budaya dan sejarah Indonesia.

“Karya-karya Pram memiliki benang merah yang jelas, yaitu humanisme. Untuk memahami pemikirannya, seseorang harus membaca karya-karyanya secara menyeluruh dan utuh, bukan hanya dari satu sisi,” jelas Prof. Koh.

Menariknya, diskusi ini juga mengungkap perjalanan Prof. Koh dalam mengenal Pramoedya sejak era 1980-an. Sebagai Wakil Ketua Korea Association of Malay-Indonesian Studies (KAMIS) dan kini Direktur Indonesia Culture Center di Seoul, Prof. Koh telah lama menaruh perhatian pada sastra Indonesia, khususnya pemikiran Pram.

Tak hanya itu, Prof. Koh juga menerbitkan buku tentang Pramoedya dalam bahasa Korea, berjudul Orang Asing yang Tidak Begitu Asing: Kehidupan dan Kesastraan Pramoedya (낯설지 않은 이방인: 쁘라무디아의 삶과 문학). Buku ini semakin memperluas jangkauan pemikiran Pram ke ranah internasional, terutama di Korea Selatan.

Sebagai pelengkap diskusi, acara ini juga menghadirkan pemutaran dokumenter dan arsip tentang Pramoedya, yang kemudian ditanggapi secara kritis oleh Prof. Koh. Dengan demikian, audiens tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga pengalaman visual mengenai perjalanan intelektual sang maestro.

Sebagaimana dikatakan A. Teeuw, seorang kritikus sastra ternama, Pramoedya adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi atau bahkan satu abad. Pemikirannya yang dipengaruhi oleh humanisme menegaskan kebebasan manusia dari belenggu penindasan, baik kolonialisme maupun ketidakadilan sosial.

Dalam diskusi ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa karya-karya Pramoedya tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga terus bergema hingga saat ini. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pemikiran Pram tetap menjadi rujukan bagi mereka yang mencari keadilan, identitas, dan makna kehidupan.

Dengan perbincangan yang kaya dan analisis yang mendalam, diskusi Menimbang Pramoedya Ananta Toer ini menjadi bukti bahwa warisan intelektual sang sastrawan masih hidup, mengalir, dan terus memberi inspirasi bagi generasi mendatang.


Tuesday, March 11, 2025

Puisi Chairil Anwar 'Aku' Hiasi Subway Seoul, Sastra Indonesia Mendunia

Jakarta, 9 Maret 2025 – Puisi legendaris "Aku" karya Chairil Anwar kini terpampang di dua stasiun kereta bawah tanah di Seoul, Korea Selatan. Karya sastra Indonesia tersebut dipajang dalam bahasa Indonesia dan Korea di Stasiun Yeouido (Jalur 5) serta Stasiun Gangnam (Jalur 2) sejak 2023. Inisiatif ini merupakan bagian dari Program Puisi Multinasional yang digagas Pemerintah Kota Seoul untuk memperkenalkan sastra dunia kepada masyarakat Korea. 

Program ini diselenggarakan oleh Seoul Metro bekerja sama dengan komunitas sastra dan kedutaan besar dari berbagai negara. Puisi Aku, yang ditulis oleh Chairil Anwar pada 1943, dipilih sebagai representasi Indonesia dalam program ini. Terjemahan dalam bahasa Korea turut disertakan, memungkinkan masyarakat setempat memahami makna kuat yang terkandung dalam puisi tersebut.

Puisi karya Chairil Anwar terpampang di Stasiun Bawah Tanah KRL Seoul, Korsel. (Tangkapan layar instagram @indonesiainseoul)

Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Gandi Sulistiyanto, mengungkapkan apresiasinya atas penghormatan ini. 

“Ini adalah langkah penting dalam memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia. Puisi Chairil Anwar tidak hanya mencerminkan semangat perjuangan, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang,” ujarnya.

Warga Seoul yang melintas di stasiun pun menunjukkan ketertarikan terhadap puisi tersebut. Beberapa pengunjung bahkan mengabadikan puisi Aku dalam foto dan membagikannya di media sosial. Salah satu warga Korea Selatan, Kim Ji-hoon, mengungkapkan kekagumannya terhadap puisi itu. 

“Bahasanya sangat kuat dan penuh emosi. Ini pertama kalinya saya membaca puisi dari Indonesia, dan saya sangat terkesan,” katanya.

Pengamat sastra, Maman S. Mahayana, menilai kehadiran Aku di subway Seoul sebagai pencapaian bagi sastra Indonesia. “Chairil Anwar adalah ikon sastra yang karyanya tak lekang oleh waktu. Ini membuktikan bahwa puisi Indonesia memiliki daya tarik universal,” jelasnya.

Puisi Aku dikenal sebagai salah satu karya terbesar dalam sejarah sastra Indonesia. Dengan gaya bahasa yang lugas dan penuh semangat, puisi ini merefleksikan sikap pemberontakan serta keteguhan seorang individu dalam menghadapi tantangan hidup. Karya ini telah menginspirasi banyak generasi dan kini semakin mendapat perhatian di kancah internasional.

Pemasangan puisi ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan sebagai bagian dari kampanye literasi global. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga menyatakan harapannya agar lebih banyak karya sastra Indonesia yang dapat dipromosikan di berbagai negara.

Dengan hadirnya puisi Chairil Anwar di subway Seoul, sastra Indonesia semakin mendapatkan tempat di panggung dunia, membuktikan bahwa karya-karya klasik tetap relevan dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas.


Warisan HB Jassin dalam Studi Sastra Indonesia

Hans Bague Jassin, atau yang lebih dikenal sebagai HB Jassin, merupakan figur sentral dalam perkembangan kritik sastra Indonesia. Sebagai kritikus, editor, dan dokumentator, kontribusinya tidak hanya membentuk lanskap sastra nasional, tetapi juga menyediakan landasan metodologis bagi studi sastra di Indonesia. Keberadaannya sebagai "Paus Sastra Indonesia" bukan sekadar gelar simbolis, melainkan pengakuan atas ketekunannya dalam mengarsipkan, menganalisis, dan mengontekstualisasikan karya-karya sastra Nusantara.

Hingga kini, warisan intelektualnya tetap lestari, salah satunya melalui Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Institusi ini bukan sekadar perpustakaan, tetapi sebuah pusat riset yang menjadi rujukan utama dalam kajian sastra Indonesia.

Lahir pada 31 Juli 1917 di Gorontalo, HB Jassin menunjukkan kecenderungan intelektualnya sejak dini. Latar belakang akademiknya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia membentuk perspektifnya sebagai seorang kritikus yang tidak hanya menilai aspek intrinsik sebuah karya, tetapi juga menghubungkannya dengan dinamika sosial, budaya, dan politik.

Sebagai editor dan pengarsip, Jassin memiliki visi yang jauh ke depan dalam memahami peran sastra sebagai representasi zaman. Ia menaruh perhatian besar pada estetika dan moralitas dalam sastra, yang sering kali membawanya pada perdebatan panjang dengan sastrawan sezamannya. Gagasannya mengenai kritik sastra modern mencerminkan pendekatan multidisipliner, di mana sebuah teks tidak hanya dipahami sebagai karya seni, tetapi juga sebagai artefak sejarah yang mencerminkan pergeseran ideologi dan estetika suatu bangsa.

HB Jassin juga memiliki peran besar dalam memperkenalkan dan membangun reputasi banyak sastrawan Indonesia, termasuk Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan Taufiq Ismail. Analisisnya terhadap karya-karya mereka tidak hanya menempatkan sastrawan ini dalam konteks sastra Indonesia, tetapi juga menghubungkan mereka dengan tren sastra dunia. Ia memahami bahwa sastra bukan hanya soal keindahan bahasa, tetapi juga cerminan kehidupan, perjuangan, dan pemikiran yang berkembang dalam masyarakat.

Dedikasinya dalam mengkaji dan mendokumentasikan karya-karya sastra, baik dari penulis terkemuka maupun yang kurang dikenal, memperlihatkan etos kerja akademik yang ketat. Ia tidak sekadar mengumpulkan, tetapi juga memberikan tafsir yang tajam terhadap berbagai teks sastra, menjadikannya sumber primer bagi banyak peneliti hingga saat ini.

Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin didirikan untuk mengabadikan warisannya. Institusi ini menyimpan koleksi naskah, manuskrip, korespondensi, dan kritik sastra yang tidak ternilai harganya.

Bagi akademisi dan mahasiswa sastra, pusat dokumentasi ini menjadi sumber utama dalam studi sastra Indonesia. Keberadaannya bukan hanya sebagai repositori arsip, tetapi juga sebagai ruang diskusi akademik dan eksplorasi intelektual yang memungkinkan kajian sastra berkembang secara lebih luas dan mendalam.

Namun, eksistensi institusi ini menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pendanaan dan perhatian dari pemerintah. Krisis finansial yang sempat mengancam keberlangsungannya mengindikasikan lemahnya apresiasi terhadap peran arsip dalam studi sastra. Meski demikian, dukungan dari komunitas akademik dan pegiat literasi membantu pusat dokumentasi ini tetap bertahan sebagai institusi penting dalam khazanah intelektual Indonesia.

Selain sebagai tempat penelitian, pusat dokumentasi ini juga berperan dalam mengedukasi generasi muda tentang pentingnya literasi dan apresiasi sastra. Dengan berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi sastra, serta pameran naskah-naskah bersejarah, institusi ini terus berusaha memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada publik yang lebih luas.

HB Jassin wafat pada 11 Maret 2000, tetapi pemikiran dan dedikasinya tetap hidup melalui berbagai karya yang telah ia dokumentasikan dan kritik yang telah ia bangun. Warisannya tidak hanya terletak pada arsip-arsip yang dikumpulkannya, tetapi juga dalam paradigma kritik sastra yang ia kembangkan.

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin bukan sekadar monumen intelektual, tetapi juga manifestasi dari keyakinannya bahwa dokumentasi adalah bagian esensial dalam studi sastra. Bagi mahasiswa dan akademisi, institusi ini menjadi laboratorium pemikiran yang memungkinkan kajian sastra tidak hanya bersandar pada teks, tetapi juga pada sejarah dan konteks sosialnya.

Di era digital saat ini, metode kritik dan dokumentasi yang diperkenalkan HB Jassin masih relevan, terutama dalam menghadapi tantangan modernisasi dalam sastra. Keberlanjutan pemikirannya menjadi tugas generasi akademisi berikutnya agar tradisi kritik sastra Indonesia terus berkembang dan beradaptasi dalam konteks yang lebih luas.

Lebih dari sekadar kritikus, HB Jassin adalah penjaga memori sastra Indonesia. Tanpa kerja kerasnya dalam mendokumentasikan dan mengkritisi karya-karya sastra, banyak warisan sastra Indonesia mungkin telah hilang dalam pusaran zaman. Oleh karena itu, menghargai karyanya berarti melanjutkan upayanya dalam menjaga, mengkaji, dan mengembangkan dunia sastra Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.


Peringatan 1 Abad Pramoedya Ananta Toer, Gramedia Cetak Ulang Karya Sang Maestro

Jakarta, 6 Maret 2025 – Dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan terbesar Indonesia, Gramedia merilis cetak ulang beberapa karyanya yang telah menjadi warisan sastra nasional pada Rabu (19/2/2025). Sejumlah buku legendaris Pramoedya, termasuk tetralogi Bumi Manusia, kembali hadir di rak-rak toko buku untuk mengenalkan kembali pemikiran serta kritik sosial yang terkandung dalam tulisannya kepada generasi baru.

Cetak ulang ini mencakup beberapa judul ikonik seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Selain itu, buku lain seperti Gadis Pantai dan Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer juga mendapat edisi terbaru dengan desain sampul yang lebih modern. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pembaca muda yang belum mengenal karya Pramoedya.

Cover Baru Buku Tetralogi Pulau Buru (Tangkapan Layar Instagram @penerbitkpg)

Kini, sampul dari empat buku Tetralogi Pulau Buru dicetak dengan sampul yang lebih sederhana dan mengambil warna biru. Dilihat dari akun Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) disebutkan bukunya dicetak ulang dengan edisi Seabad Pram. "Dengan warna sampul kesukaan Pramoedya Ananta Toer," tulis @penerbitkpg.

“Pramoedya adalah salah satu penulis paling berpengaruh di Indonesia. Karyanya tidak hanya menyajikan kisah sejarah, tetapi juga refleksi mendalam tentang bangsa ini. Kami ingin memastikan bahwa generasi muda tetap bisa mengakses pemikirannya,” ujar Yuli Pujihardi, perwakilan dari Gramedia, dalam acara peluncuran di Jakarta, Selasa (6/2).

Peringatan satu abad Pramoedya juga diramaikan dengan berbagai diskusi sastra, pameran buku, serta pemutaran film yang diadaptasi dari novelnya. Salah satu acara yang menarik perhatian adalah seminar bertajuk Pramoedya dan Relevansi Karyanya di Era Digital, yang menghadirkan sastrawan, akademisi, serta para pembaca setia Pramoedya.

Kritikus sastra Maman S. Mahayana menilai, cetak ulang ini merupakan langkah positif untuk menjaga relevansi karya Pramoedya. “Tulisan-tulisan Pram masih sangat aktual. Ia menulis tentang perjuangan, kemanusiaan, dan keadilan nilai-nilai yang tetap penting hingga sekarang,” ujarnya.

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Semasa hidupnya, ia banyak menulis novel, esai, dan artikel yang menyoroti ketimpangan sosial serta sejarah Indonesia. Akibat kritik tajam dalam karyanya, ia sempat mengalami pemenjaraan, baik di era kolonial maupun Orde Baru. Meskipun demikian, tulisan-tulisannya tetap bertahan dan menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin memahami perjalanan bangsa ini.

Dengan pencetakan ulang ini, Gramedia berharap agar warisan pemikiran Pramoedya terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang. 

“Kami ingin memastikan bahwa suara dan gagasannya tetap bergema, bahkan setelah satu abad kelahirannya,” pungkas Yuli Pujihardi.

Peringatan 1 abad Pramoedya bukan hanya momentum untuk mengenang sang maestro, tetapi juga ajakan untuk kembali menyelami pemikirannya dalam membangun kesadaran sejarah dan identitas bangsa.


Gramedia Hadirkan Makarya, Toko Buku Interaktif di Jakarta

Jakarta, 7 Maret 2025 – Smiljan Makarya, destinasi perpaduan toko buku dan kedai kopi, resmi dibuka di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, pada Selasa (11/2/2025). Inovasi ini hadir sebagai bentuk kolaborasi antara literasi dan gaya hidup modern, memberikan pengalaman baru bagi pengunjung untuk membaca, bekerja, atau sekadar bersantai dengan secangkir kopi.


Salah satu penggagas Smiljan Makarya, Immaculata Adhista atau Adhis, mengungkapkan bahwa konsep ini berawal dari keprihatinan terhadap menurunnya minat baca masyarakat Indonesia. Bersama dua rekannya, Tomi Wibisono dan Rahmat, mereka berupaya mencari cara agar buku kembali menarik perhatian di tengah dominasi gawai dan era digital.

“Kami berpikir, bagaimana membuat orang kembali tertarik membaca? Akhirnya, kami menciptakan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan dengan ditemani kopi,” ujar Adhis dalam acara peresmian Smiljan Makarya.

Tomi Wibisono, yang juga pendiri dan CEO Buku Akik, menambahkan bahwa Makarya tidak sekadar toko buku biasa yang berorientasi pada transaksi. Menurutnya, toko buku seharusnya menjadi tempat untuk meningkatkan literasi, menambah wawasan, serta memberikan ketenangan bagi para pengunjungnya.

“Toko buku harus bisa menjadi ruang healing di tengah kehidupan yang semakin cepat,” Pungkas Tomi.

Konsep ini mendapat dukungan penuh dari Rahmat, pemilik Smiljan Coffee, yang sudah lama berkecimpung di industri kopi. Sejak membuka cabang pertama di Bintaro 2,5 tahun lalu, ia memang bercita-cita menghadirkan kedai kopi yang juga menawarkan ruang baca.

Dengan berdirinya cabang kelima Smiljan di Gramedia Matraman yang berkolaborasi dengan Makarya, Rahmat berharap semakin banyak orang tertarik untuk membaca. 

“Kami ingin memberikan pengalaman multisensori, di mana kopi dan suasana ruang baca yang nyaman bisa menciptakan pengalaman unik bagi para pengunjung,” ujarnya.

Seluas 250 meter persegi, Makarya hadir dengan berbagai kurasi buku yang ditampilkan. Ada kurasi bertemakan setiap penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Iksaka Banu, Dee Lestari, Henry Manampiring, Leila S Chudori, Eka Kurniawan, rak bagian English Edition, sampai Buku Juara yang menampilkan buku-buku yang menang penghargaan.

Smiljan Makarya beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 di Lantai 1 Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Bagi yang ingin menikmati suasana baru dalam membaca sambil menikmati kopi, tempat ini bisa menjadi pilihan menarik.


Bacaan Wajib Generasi Z untuk Masa Depan yang Cerah

  Membaca merupakan salah satu cara terbaik bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, memperkaya pemikiran, dan menemukan inspirasi dalam...